Akhir-akhir ini, sejumlah media massa menyajikan berita tentang perilaku seksual di luar nikah yang dilakukan anak di bawah umur. Setelah diinterogasi, anak tersebut ternyata sering menonton video porno atau melihat gambar porno. Kondisi ini menuntut orangtua agar lebih ekstra memantau kegiatan anak. Bahkan, pola pendidikan dalam keluarga juga perlu ditingkatkan. Umumnya, orang tua memasrahkan anak-anaknya menimba ilmu di bangku sekolah. Bahkan,sebagian orangtua tidak menyadari bahwa pendidikan anak-anak adalah tanggung jawabnya. Artinya, orang tua tetap memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian anak. Selain di sekolah, anak perlu diberi pendidikan di lingkungan keluarga.

Membangun Indonesia dari keluarga akan memiliki dampak luar biasa terhadap perkembangan bangsa di masa yang akan datang. Jika mayoritas keluarga yang ada di negeri ini menerapkan ide ini, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa besar dan disegani dunia. Salah satu generasi harapan orangtua untuk membangun bangsa adalah anak. Orangtua memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang berguna bagi siapa saja. Usaha orang tua ‘menitipkan’ anak-anak ke lembaga pendidikan bukan berarti menggugurkan kewajibannya untuk mendidik anak-anak. Volume waktu anak-anak menimba ilmu di bangku sekolah sangat terbatas. Nah, keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kepribadian anak. Apalagi, orang tua lebih mengerti terhadap kondisi anak-anaknya.

Dalam Creative Parenting Today (2016), Andi Yudha Asfandiyar menyatakan bahwa orangtua punya pengaruh besar terhadap masa depan anak. Jika pendidikan di keluarga dan di lingkungan baik, itu akan menjadikan jiwa anak hidup—anak akan memilih karakter positif dan karisma. Anak tidak saja pintar, tapi juga cerdas dan berpikir jauh ke depan. Anak akan mampu membaca masalah dan dengan segera mencari solusinya. Lebih lanjut Andi menyatakan bahwa orangtua merupakan sekolah pertama bagi anak. Oleh karena itu, setiap orang harus memilih pasangan hidup dengan tepat agar anak-anak tumbuh dalam sekolah yang tepat pula.

Tanggung jawab mendidik anak sudah dimulai ketika seseorang beranjak membangun kehidupan baru. Secara tersurat Andi menegaskan bahwa pendidikan anak dalam keluarga sangat penting. Anak merupakan aset keluarga sekaligus aset bangsa yang akan menentukan nasib bangsa pada masa yang akan datang. Kualitas pendidikan anak juga tidak bisa terlepas dari kapasitas keilmuan orangtua. Orangtua merupakan sumber yang akan mengalirkan sesuatu kepada anak-anaknya. Orangtua memiliki peran penting bagaimana karakter anak akan dibentuk.

Albert Einstein, seorang ahli Fisika, mengatakan bahwa sesungguhnya seorang anak ibarat miniatur alam semesta yang menakjubkan, penuh keajaiban serta keagungan Sang Pencipta, bagi kita yang mau berpikir dan belajar. Perkataan Einstein ini menjadi peringatan untuk keluarga agar mampu menggali potensi dan keajaiban-keajaiban yang dimiliki sang anak. Sebesar apapun potensi seorang anak akan menjadi tumpul jika tidak diimbangi dengan usaha maksimal untuk mengasahnya.

Mengenal Kepribadian Anak Peran orang tua untuk mengetahui tipe atau kepribadian anak merupakan hal urgen. Kepribadian seorang anak cenderung berbeda dengan anak lainnya. Jika sebuah keluarga memiliki lebih satu orang anak, orangtua tidak boleh berspekulasi bahwa kepribadian mereka sama. Otomatis, orangtua tidak bisa menyamaratakan pola pendidikan yang diterapkan. Adakalanya, orangtua perlu berupaya melalui eneagram untuk mengetahui tipe masing-masing anak. Ini saking pentingnya peran keluarga untuk mendidik anak-anak dalam rangka membentuk generasi bangsa yang berkualitas. Dalam catatan Wikipedia, Enneagram (baca : eneagram) adalah gambar/ pola geometris bersudut sembilan. Istilah ini berasal dari Bahasa Yunani <https://id.wikipedia.org/wiki/Yunani> yang berarti sesuatu yang ditulis atau digambar. Gambar Enneagram digunakan untuk beragam tujuan di dalam sejumlah sistem ajaran. Elizabeth Wagele dalam The Enneagram of Parenting (2015) menyatakan bahwa menurut teori eneagram, tiap individu memiliki sembilan tipe dalam tingkat yang berbeda-beda.

Kesembilan unsur tersebut adalah perfeksionis, penolong, pengejar prestasi, romantis, pengamat, pencemas, petualang, pejuang, dan pendamai. Pentingnya mengetahui kesembilan tipe ini sebagai upaya orang tua untuk memetakan pola pendidikan yang akan digunakan untuk anak. Ironis ketika orangtua menerapkan satu pola pendidikan yang diterapkan kepada anak walaupun pola tersebut tidak sesuai dengan tipe sang anak. Inilah sebuah bomerang bagi anak. Anak akan merassa gelisah berada di tengah-tengah keluarga. Mereka tidak lagi merasakan “Rumahku adalah Syurgaku”. Mereka akan mencari kesenangan di luar rumah untuk melampiaskan segala emosionalnya. Pola pendidikan anak tipe perfeksionis belum tentu cocok dengan pola pendidikan yang diterapkan kepada anak dengan tipe petualang.

Begitu juga pola pendidikan anak tipe pengamat tidak mungkin sesuai dengan pola pendidikan yang diterapkan kepada tipe anak pencemas. Upaya orang tua untuk mengertahui tipe anak dalam rangka menyesuaikan pola pendidikan yang akan diterapkan dalam keluarga. Diharapkan, pola yang diterapkan dalam keluarga akan mencetak anak secara lebih maksimal. Lingkungan keluarga memang bukan satu-satunya lingkungan pencetak anak sebagai generasi bangsa. Tetapi, keluarga merupakan sebuah lingkungan yang akan menentukan kepribadian anak. Dengan mengetahui tipe masing-masing anak, orang tua lebih mudah mengarahkan anak untuk membentuk generasi bangsa yang berkualitas. Inilah salah satu cara memaksimalkan peran keluarga dalam mendidik anak. Semoga bermanfaat!

foto penlis Suhairi Rachmad
Alumnus Pondok Pesantren Mambaul
Ulum Bata-bata Pamekasan, asal Telaga Ganding Sumenep dan alumnus Program
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya
Facebook