Lumrah diketahui banyak orang bahwa pesantren adalah sentral pendidikan Islam. Lembaga pendidikan yang berkonotasi terhadap proses penyebaran dan pengembangan syariah Islam. Pesantren juga identik dengan tradisi nilai salaf sebagai ideologi pegangan dalam menjalankan hidup keseharian para penghuni pesantren. Hingga pada akhirnya, kata “salaf” menjadi kode etik tersendiri yang cenderung tidak boleh dilanggar.

Dalam literatur pola kata Indonesia, kata “pesantren” berasal dari akar kata “santri”, yaitu istilah yang digunakan bagi orang-orang yang menuntut ilmu agama di lembaga pendidikan Islam tradisional di pulau Jawa. Kata “santri” mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat para santri menuntut ilmu (Zamakhsari Dhofier, 1982: 18).

Kata santri berasal dari bahasa Tamil sastri yang berarti “guru mengaji”. Ada pula yang mengatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa India shastri, yang berarti buku-buku agama atau buku tentang ilmu pengetahuan. Ada juga yang diambil dari bahasa Tamil sattiri yang diartikan orang yang tinggal di sebuah rumah miskin atau bangunan secara umum.

Meskipun ketiga pendapat yang disampaikan oleh para ahli di atas artinya berbeda-beda, ketiganya mengandung kedekatan dengan makna santri. Bila dilihat dari pendapat pertama bahwa santri berarti “guru mengaji”, terdapat kedekatan arti dengan fenomena santri, yaitu santri adalah orang-orang yang memperdalam agama kemudian mengajarkannya kepada masyarakat yang beragama Islam. Hal tersebut juga dikenal dengan istilah “guru mengaji”. Begitu pula dengan pendapat kedua, santri yang berarti buku agama atau buku pengetahuan, mempunyai kedekatan dengan makna santri karena santri adalah orang yang menuntut ilmu agama baik dari Al-Quran ataupun teks-teks agama yang ditulis oleh para ulama salaf (terdahulu) yang biasa dikenal dengan kitab kuning (Hanun Asrohah, 2012: 7).

Dari sekelumit pengertian di atas, mengindikasikan bahwa unsur terpenting dalam tubuh pesantren adalah pendalaman akan ilmu agama Islam. Di mana hal itu berujung pada stabilitas pengukuhan kata salaf yang diagung-agungkan. Meski hingga saat ini istilah salaf yang dimaksudkan masih belum menemukan koridor yang pas apalagi dengan berbagai term yang berbeda serta diusung oleh pesantren yang berbeda pula.

Salaf pada dasarnya berarti dahulu. Sehingga pesantren yang menganut sistem salaf adalah pesantren yang masih konsisten mentradisikan ajaran Islam masa silam sebagaimana ajaran para ulama Islam terdahulu. Konsep pembelajaran dalam pengertian salaf sedemikian rupa membentuk praktikum nyata seperti halnya ngaji sorogan dan lain sebagainya (Dr. Mustajab, S.Ag., M.Pd.I., 2016: 23).

Ini pesantren salaf dalam aspek media sekaligus konten pembelajarannya. Beda lagi dengan pesantren yang mengkulturkan nilai salaf hingga dalam potret kehidupan sehari-hari. Contoh kecilnya, sebuah pesantren melarang santrinya untuk memakai sepatu, menggunakan fasilitas elektronik, atau hal lain yang jelas tidak ada kaitannya dengan potret kehidupan ulama Islam silam. Pesantren sedemikian rupa berarti murni menjalankan kode etik salaf yang sesungguhnya.

Di samping itu, ada pula yang terkesan lucu. Di satu sisi mengaku salaf, di sisi yang berbeda memberi label modern pada penghujung namanya. Salaf sekaligus modern. Dua akar kata yang berlawanan arti tapi dipadukan pada satu objek pembicaraan yang masih belum pasti ke mana objek itu akan diarahkan. Meski di balik penamaan “salaf modern” itu, terkandung maksud bahwa pesantren itu tetap berusaha mempertahankan keotentikan nilai salaf, namun tidak lantas meninggalkan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin dinamis dan tentunya berbeda dengan konteks dahulu.

Dari keanekaragaman tradisi salaf yang berlangsung di tiap pesantren, dua abad setengah bukan waktu yang singkat bagi pesantren untuk sekedar mengubah wajah salafnya. Bermula dari murni salaf tulen hingga melebur dan berkolaborasi dengan ke-modern-an jaman. Lalu, dengan waktu selama itu, mampukah pesantren pula untuk memberikan sumbangsih transformasi yang baik terhadap khazanah Islam? Pertanyaan inilah yang hingga kini belum terjawab. Bermacam-macam rupa salaf sudah dipamerkan di mana-mana, kendati demikian yang muncul hanyalah mempertinggi pamor tanpa adanya nilai pencapaian dari kata salaf kenamaan itu. Lantas seperti apa wajah pesantren salaf yang mampu memberikan perubahan?

Pesantren adalah rujukan dalam segenap problematika keislaman. Tuntutan kerap kali datang agar pesantren mampu memberikan tanggapan sekaligus titik tekan hingga pada akhir kata keputusan. Terlebih, dengan pola kehidupan masyarakat yang semakin majemuk dan kontroversial, pesantren sepatutnya mengambil tindakan supaya keadaan tidak lagi stagnan berbenah, tapi sanggup mencapai tahap penyelesaian yang sesungguhnya (A. Fatih Syuhud, 2008: 31).

Dari pada itu, penting dijadikan acuan bahwa salaf tidak lagi harus menjadi kedok ataupun topeng pamer diri. Sebab sejatinya pesantren itu telah meruanglingkupi lingkaran salaf. Munculnya dikotomi pesantren salaf dan pesantren modern disebabkan atas penamaan yang tidak beralasan dan sangat disayangkan. Sehingga ruh salaf adalah ruh pesantren dan tidak mungkin bila ada pesantren yang tidak salaf. Sebab pesantren tentunya identik dengan pembelajaran sekaligus penerapan agama yang hal itu adalah bagian dari praktikum salaf.

Selanjutnya, bagaimana nilai salaf yang linier terkandung di tiap pondok pesantren dapat menjawab tantangan problematika masyarakat secara plural. Sebab pada dasarnya itulah amanah pondok pesantren agar tetap berdedikasi baik terhadap umat. Baik masalah yang dihadapi bersinggungan dengan konteks agama sekalipun merujuk pada ranah sosial yang lebih melebar. Pesantren harus menunjukkan sikap yang diharapkan sempurna (tidak setengah-setengah), tegas, dan bijak dalam berkomitmen dan mencetuskan keputusan. Sebab, cenderung segala tindak tanduk yang dijalankan oleh pesantren menjadi fatwa pegangan yang harus ditaati. Maka dari itu, kata salaf tidak lagi harus digembor-gemborkan, namun diluruskan pada aplikasi pelaksanaan yang mewujudkan perubahan.

foto penlis Moh. Abdul Majid Al Ansori
Ass. Sekretaris Majalah New Fatwa Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata.
Facebook