Secara historis, sistem ekonomi syariah sudah sukses di jadikan pilot project oleh baginda Nabi Muhammad SAW, sejak sebelum Nabi Muhammad dinobatkan sebagai Nabi dan Rasul, beliu sudam mempraktekkan terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan bisnis dan perdagangan, meski realitasnya dalam hal kodifkasiannya dilakukan saat dinobatkan sebagai nabi dan diangkat sebagai utusan serta setelah hijrah dari mekah ke madinah.

Berbicara soal literasi ekonomi syariah, maka tidak akan pernah luput dari kajian sosok baginda Rasulullah SAW, yang sudah merombak peradaban jahiliyah menuju peradaban ilmiah. Sebuah peradaban dengan konsep perdagang yang menindas rakyat jelata, dan mengangkat derajat orang kaya, peradaban dimana rentenir berkuasa dan rakyat jelata tercekik dalam gengamannya. Kehadiran beliau yang terlahir pada tanggal 12 Robiul Awal sudah merubah dunia mulai dari sektor pendidikan, kebudayaan, sosial, politik, ekonomi, perdagangan dan bisinis.

Pada bulan ini merupakan sebuah momentum yang tepat untuk membangkitkan kembali, geliat literatur ekonomi syariah yang selama ini terpendam, dengan cara mengkaji kembali biografi beliau lebih-lebih tentang kiprah beliau dalam dunia bisnis, sebab para ekonom dunia saat ini sedang kelimpungan akan peliknya permasalahan ekonomi yang menimpa negeri mereka masing-masing, sistem ekonomi kapitalis, sosialis dan komunis yang diciptakan pendahulunya ternyata tidak bisa memberikan solusi yang jelas dalam membendung permasalahan ekonomi yang menimpanya.

Sebagai contoh konkret adalah krisis yang menimpa negeri ini, pada tahun 1997-1998 dimana lembaga keuangan perbankan kolap semua, cuman perbankan syariah yang eksistensinya tidak pernah goyah oleh hantaman arus krisis pada saat itu sehingga kemudian lahirlah perbankan-perbankan syariah lainnya, yang rata-rata induknya adalah perbankan konvensional.

Permasalah yang muncul belakangan ini dalam lembaga keuangan syaraiah (LKS) adalah terkait lambatnya laju market share lemabaga ekonomi syariah dengan capaian stagnan dalam kisaran 5%, yang salah satu penyebabnya ditengarai oleh minimnya pemahaman masyarakat akan literatur ekonomi syariah, padahal potensi pasar khususnya di nusantara ini sangat besar, sebab populasi masyarakat muslimnya lebih besar, namun pemahaman mereka terkat literasi ekonomi syariah masih sangat minim sekali.

Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum islam selama ini hanya dijadikan pedoman dalam hal ibadah saja, atau sebagai mana sering dinyatakan oleh Dr. Muhammad Syafi’I Antonio, Muhammad hanya ada dalam Masjid, Musholla, Masdrasah dan di Mulut doang, tidak ada dalam manajemen, market, money making dan marketing, padahal beliau adalah pemimpin yang paripurna, Super leader dan super manager, beliau pemimpin di masjid, pemimpin di pasar, pemimpin perang bahkan politikus ulung dan pembuat undang-undang.

Maulid Nabi merupakan sebuah momentum yang tepat, untuk merubah mindset masyarakat umat islam, untuk tidak hanya terjebak dalam pemahaman dalam hal ibadah saja, tapi juga dalam bidang muamalah benar-benar menggunakan polarisasi hukum syariat islam juga, mencoba membangkitkan islam dalam sktor muamalah maupun dalam berekonomi, sehingga konsep fissilmi kaffah (QS. Al Baqarah (2) : 208) tidak hanya isapan wacana belaka tetapi juga harus dibuktikan dan diimplementasi ke dunia nyata.

Maulid Nabi; Sebuah Momentum Kebangkitan Literasi Ekonomi Syariah

Mari bersama merenungkan kembali, kiprah baginda Rasulullah SAW, dengan cara mempelajari track record dan napak tilas beliau. Tahap fase umur Nabi sebenarnya sudah dimulai dari 0-12-17-25-40-63 dengan pembagian 12-37 beliau menjadi pedagang 3 tahun bertahannus di gua hira’ (proses penerimaan wahyu) ketika dibagi-bagikan semuanya antara yang menjadi pedagang dan utusan lebih banyak menjadi pedagang dari pada menjadi nabi dan rasul, dengan prosentase 23 tahun jadi nabi dan rasul sedangkan 25 tahun menjadi pedagang.

Dari sana dapat disimpulkan bahwa umat islam harus kaya, sebab dengan banyak harta kita akan tenang dalam beribadah sebagaimana sabda beliau yang artinya ‘terkadang kefakiran itu menyebabkan kekafiran’. Dalam hadist yang lain juga disebutkan “mencari rizki yang halal adalah fardhu sesudah fardhu menunaikan shalat.” Selain Nabi Muhammad nabi yang lainnya pun bervarian Nabi Ibrahim itu kaya, Nabi Suib itu miskin, Nabi Yusuf Kaya, Nabi Sulaiman Kaya, Nabi Daud kaya, Nabi Isa Miskin sedangkan Nabi Muhammad itu pernah kaya dan pernah miskin jadi beliau tahu bagaimana syariatnya ketika menjadi orang kaya dan syariatnya menjadi orang miskin.

Walhasil, kemajuan sebuah peradaban di dunia tidak terlepas dari maraknya literasi yang dibaca, tanpa dengan minat baca literasi yang tinggi mustahil dunia teknologi dan informasi berkembang pesat seperti saat ini, dalam buku biografi yang di tulis oleh Charles saputra tentang orang-orang yang sukses di dunia, tentu tidak luput dengan kebiasaan baca yang menjadi konsumsi harian mereka, sehingga mengantarkan mereka pada gerbang kesuksesaan.

Begitupun dengan suksesi penerapan sistem ekonomi syariah yang kaffah, harus ada upaya untuk mendistribusikan literasi ekonomi syariah secara merata, dan Maulid Nabi adalah sebuah momentum yang tepat untuk meniupkan kembali ruh literasi ekonomi syariah, baik dengan cara menerbitkan buku maupun menulis opini atau artikel di media masa, dengan harapan umat islam bisa lebih terbuka dan menerima konsep ekonomi syariah yang selama ini selalu dipandang sebelah mata. Semoga.

foto penlis Umar Faruk Fazhay
Mahasiswa Aktif Ekonomi Syariah IAI Nurul Jadid Paiton Probolinggo
Ketua DPW IMABA Probolinggo Jawa Timur
Facebook