Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan ku gentarkan dunia…
Akhlaq mulia adalah akhlaqnya para pemuda…
Atau ingat lagu legendaris,
Darah muda darahnya para remaja…

 

Pemuda. Yang ada di pikaran kita atau gambaran sejenak adalah mereka yang gagap, kokoh, berani dan lainya. Kata pemuda sudah tidak asing lagi mungkin jika kita gambarkan dengan sosok ksatria yang amat tangguh. Pemuda bagaikan togak sebuah bangunan, yang apabila kita gambarkan sebuah bangunan tanpa togak entah bagaimana jadinya.

Pemuda merupakan masa-masa emas dimana sesorang sedang dalam usia yang cukup produktif dalam segala hal, termasuk pendidikan, pergaulan, dan keterampilan. Pemuda merupakan penerus bangsa dimasa depan. Dan para pemudalah harapan satu-satunya untuk bisa membawa kejayaan suatu bangsa mau pun agama. Apalagi seperti saat ini, dimana dunia sedang mengalami masa-masa perang dingin. Tentunya pemudalah yang sangat diharapkan berada di barisan paling depan.

Ketangguhan mereka dapat kita lihat pada tragedi-tragedi terdahulu. Seperti yang pernah terjadi di tanah air di era pra-kemerdekaan, saking menggebu-gebunya jiwa seorang pemuda sampai-sampai ada kelompok pemuda yang ingin secepat mungkin untuk bekhotbah kepada mereka bahwa perjuangan Indonesia melawan penjajah pada saat itu sudah mencapai puncak. Seperti dalam peristiwa Rengas Dengklok, saking tidak sabarnya para pemuda untuk menyuarakan kemerdekaan pada waktu itu, mereka sampai-sampai membawa sang Presiden kesuatu tempat yang dikenal dengan tragedi Rengas Dengklok.

Itu semua merupakan pengilustrasian dari seorang pemuda, bahwa mereka sangatlah berjiwa ksatria tanpa pandang buluh musuh yang ada didepannya. Dan pemudalah yang sangat pantas untuk diharapkan sebuah hasil yang memuaskan semua orang di masa depan.

Fitroh seorang pemuda di awal kelahirannya sangatlah bersih dan suci, yang menyebabkan mereka jauh menyimpan dari ajaran agama setelah tumbuh besar adalah ajaran sosial dari lingkungan terutama lingkungan keluarga. Seperti hadist Nabi. “Anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka orang tuanyalah yang dapat menjadikanya Yahudi, Nashroni, ataupun Majusi,”(HR.Muslim). Dari hadist tersebut bahwa sangat jelas peran keluarga merupakan aspek tidak ada duanya dalam arus pertumbuhan jiwa pemuda.

Dunia pemuda memang sangat kompleks dibanding mereka yang sudah lanjut usia. Hampir dari segala bidang mereka bisa diharapkan, terutama masalah pendidikan dan aspek moralitasnya terhadap agama dan bangsa. Moralitas (akhlaq) pemuda merupakan aspek nomor satu yang harus selalu dijunjung tinggi. Sebab, dari situlah alur pertumbuhan dan keniscayan pemuda dalam mengatasi masalah lingkungan terutama pergaulan bebas dapat diketahui.

Pemuda harus selektif dalam memilih arus pergaulan di era globalisasi, sebab pergaulan dimasa kini kebanyakan sangat menyimpang dari ajaran agama dan norma hukum, jika para pemuda dan bantuan keluarga tidak serba hati-hati dalam menentukan, dengan mudah mereka akan terjerumus pada akhlaq yang sangat menyimpang, seperti pemakaian obat-obatan terlarang. Dan mengenai hal ini sudah banyak hadist Nabi atau literatur-literatur islam yang menuntut untuk berperilaku baik (berakhlakul karimah).

Pergaulan adalah aspek sebagai pembentuk generasi bangsa. Disinilah seseorang dapat menentukan arah dunianya yang nyata, tantangan besar seseorang terutama pemuda dalam mengarungi masalah kehidupan terjadi saat itu juga. Aspek seosial pergaulan sangat menuntun gerak maju seorang pemuda. Sebab, pada masa itulah pemuda jiwanya masih sangat relatif untuk ikut yang baru dihadapinya. Keluarga harus ekstra bertindak dalam mengatur dan membendung pemuda untuk tidak pada hal-hal yang negatif. Karena keluargalah tokoh atau kreator utama dalam pembentukan sisi sosial seorang pemuda. Apabila pemuda salah tanggap dalam masalah pergaulan, disinilah juga titik awal kehancuran bangsa dapat diketahui dengan pasti.

Di era yang serba modern ini atau lebih populer kita kenal dengan globalisasi banyak kita temui sebuah pola budaya edukasi dan pergaulan yang sangat bertaraf bagus. Tapi, sebelum kita melangkah pada point positif globalisasi, marilah kita lebih mengenal ranah tersebut terhadap pemuda, seperti masuknya budaya dan kebiasaan kebiasaan asing yang dengan sangat mudah para pemuda menjiplaknya. Budaya-budaya barat yang lebih dikenal west ternisasi kebanyakan berdampak buruk pada perilaku pemuda. Oleh karena itu, sikap tegas dan tanggap dari pemuda itu sendiri dan keluarga sangat dibutuhkan demi mejaga penyimpangan-penyimpangan sosial.

Dunia edukasi merupakan satu tingkat dibawah pergaulan atau sosial seorang pemuda, hal ini pasti menimbulkan tanda tanya besar mengapa saya meletakkan dunia sebagai nomer dua setelah pergaulan. Sebab, dunia pendidikan memang sangat gampang dicapai oleh serorang pemuda, tapi kesuksesan dunia pendidikan sangatlah ditentukan oleh keseharian pemuda yaitu pergaulan.

Pendidikan sangatlah penting dalam pembentukan masa depan seorang pemuda. Pendidikan juga menjadi barometer tingkat keberhasilan suatu negara. Sebab, pendidikan merupakan hal yang sangat wajib bagi pemuda dalam mengarungi proses menuju masa depannya. Disinilah mereka dapat mengeksplor segala yang ada benaknya (pikirannya). Di era globalisasi ini pendidikan merupakan hal yang sangat urgen. Dampak globalisasi bagi dunia pendidikan sangatlah bagus, karena pendidikan saat ini di tunjang dengan ilmu pengetahuan yang sangat mempuni dan prasarana yang sangat kompleks. Jadi tidak menutup kemungkinan para pemuda untuk aktif dalam dunia yang berbeda dibanding masa-masa dulu karena dunia semakin kedepan semakin kompleks, Sayyidina Umar pun berkata akan hal ini. “Didiklah anakmu pada jamannya, bukan pada jaman yang engkau hadipi dimasa dulu,”
Tetapi, sikap tanggap dari seorang pemuda juga sangat diperlukan dalam hal ini, mereka harus mangpu untuk membedakan mana yang harus lebih diutamakan, seperti ilmu agama. Tapi, disatu sisi ilmu duniawi harus juga berjalan, sebab tuntutan jaman yang dinamis, jika pemuda tidak juga relistis pada fan ilmu umum, tipu duniawi juga dapat mnyesatkan.

Oleh karena itu, untuk mengharap hasil yang maksimal, dibutuhkan medium pendidikan yang ‘sangat memadai dan kompleks’. Sebab, disaat-saat inilah pembentukan karakter seorang pemuda sudah menuju pada tingkat kesempurnaan. Jika mengaca pada pendidikan yang ada di Tanah Air (Indonesia) masih jauh dari kata ‘cukup’. Hal itu karena kiblat pendidikan di Indonesia masih ke negara lain yang lebih maju. Pemerintah seharusnya lebih kerja ekstra dalam masaalah pendidikan, sebab, biar bagai manapun mereka yang duduk di kursi-kursi pemerintahan bahkan presiden bermula dari pendidikan yang sangat dasar.

Sebuah negara haruslah merawat dan memanfaatkan pemudanya dengan baik. Karena biar bagai mana pun, seorang pemuda adalah mereka yang akan menjadi togak selanjutnya untuk masa depan bangsa. Maju mundurnya suatu banya dimasa yang akan datang, semua ada ditangan pemuda yang akan menjadi penerus selanjutnya.

Dari uraian itu semua, jika dalam diri pemuda, keluarga, dan negara mampu mengontrol aspek-aspek yang mengarah pada sisi positif, maka hasil yang memuaskan untuk suatu bangasa juga akan tercipta. Sehingga tidak lama lagi suatu negara atau Indonesia sendiri bisa mencapai kejayaan intelektual, moral, dan ekonomi-politik yang sangat pesat.

foto penlis Kholilur Rachman
Santri Aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Kelas XI IPA A2, Red.Pel Mading Pesantren, Asal Pangereman Batumarmar Pamekasan
Facebook