Nakal …??? apa sih untungnya seseorang larut dalam kenakalan? Pemuasan nafsu, kesenjangan sosial, tensi pergaulan, membuntuti arah lajurnya zaman? Kenakalan yang ujung-ujungnya malah diderai keputus asaan, keterpurukan, dan masa depan yang harus musnah terbakar. Bila harus dikatakan rugi? Mesti rugi. Materi, waktu, dan pengatahuan adalah segelintir dari kerugian itu. Kerugian lebih intim terletak pada hilangnya hubungan sosial dengan orang-orang yang sepantasnya memberikan kasih sayangnya, seperti halnya keluarga, guru, ataupun sahabat baik. Tak dapat hasil, merugi pula. Sungguh terlalu……

Setiap orang memiliki potensi yang berbeda. Dalam literatur kecerdasan, banyak orang mengatakan bahwa kecerdasan itu bersifat statis dan tidak akan mengalami perkembangan. Namun, apakah anggapan yang seperti ini tidak akan membunuh mental mereka yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata? Namun, bila kita sedikit menoleh ke belakang kepada sosok Ary Ginanjar Agustian, dimana dia sudah mengemukakan paham ESQ yang memberikan indikasi bahwa kecerdasan intelektual tak mampu berdiri sendiri. Di balik tabir IQ, tersimpan kekuatan atau power EQ dan SQ yang berperan penting dalam pengembangan kualitas diri.

Dari sudut pandang itulah, potensi pada diri remaja nakal penting diperhitungkan. Setidaknya, mereka telah mengantongi kecerdasan emosional guna menjadi modal awal dalam peningkatan kualitas diri. Dalam kecerdasan intelektual pun, lantas bukan berarti malah memvonis istilah “paceklik” pada mereka. Terkadang saja, dalam sekian banyak fenomena kemasyarakatan, orang-orang besar terlahir dari masa lalu yang kelam sehingga dari sanalah mereka banyak mencicipi asam garam kehidupan dan akhirnya berusaha bangkit dari masa gelapnya. Saya rasapun, semua orang bisa melakukannya bukan?

Menganalisa sumber kenakalan

“Semua insan terlahir dengan fitrah”. Kefitrahan disini mengindikasikan bahwa seorang manusia lahir tanpa berbekal apapun. Sisi baik dan buruknya suatu keadaan terdengar terlalu subjektif pada awalnya. Namun, melalui dimensi waktu perkembangan yang dijalani lantas memberikan rekasi pada stabilitas dan kredibilitas kejiwaan seseorang. Baik dan buruk hasilnya pada langkah ke depan merupakan faktor ekstern lingkungan. Dimana lingkungan akan menghantarkan seseorang pada lentera kesuksesan dan kebahagiaan atau malah menenggelamkannya pada lautan lumpur keterpurukan dan penyesalan.

Kenakalan menjadi contoh kecil diantaranya. Kenakalan seseorang tidaklah berdasar pada kepribadiannya sendiri. Pasti ada pendorong, penggerak, penyuplai agar seseorang itu dapat terjangkit virus kenakalan tersebut. Lantas, bila kenakalan yang banyak mengakar pada diri remaja kekinian tidak bersumber pada dirinya sendiri melainkan pada lingkungan yang mengelilinginya, usahakan untuk berhenti dari individu ekosistem lingkungan itu. Diperlukan pula mengadakan perubahan sosial. Gunakan setiap peluang untuk berubah dan mengenali ekosistem kebaikan, disusul dengan mengakrabkan diri dengannya, dan diakhiri dengan mencintainya.

Masa depan yang gemilang adalam idaman dan harapan setiap orang. Action to Change! Dan mulailah dari sekarang. Tidak ada kata terlambat.  Keterlambatan hanya akan menjadi catatan merah dalam sejarah hidup seseorang, ketika ia hanya berdiam diri hingga bumi menenggelamkannya lagi. Itulah keterlambatan yang sebenarnya dalam menjalani ragam pernak-pernik kehidupan.

foto penlis Moh. Abdul Majid Al-Ansori

Mantan Ketua Osis MA Mamabul Ulum Bata-Bata tahun 2014-2015. Dan saat ini sedang menjalankan masa pengabdian di Pondok Pesantren Mamabul Ulum Bata-Bata.