Public relations atau dalam bahasa Indonesia sering disebut Humas (hubungan masyarakat) merupakan penghubung antara organisasi atau instansi dengan publiknya baik itu publik internal maupun eksternal. Public relations bukan hal yang baru dalam dunia akademis maupun praktis sehingga tidak heran dalam Rumanti (2005) terdapat ribuan definisi dari berbagai negara, dan hampir semuanya mempunyai inti yang sama atau pengertian yang sama.

Hanya saja, masing-masing menggunakan istilahnya sendiri-sendiri. Dari ribuan definisi tersebut para ahli melihat hal yang sangat mencolok, yakni “Konsepnya menumbuhkan dan mengembangkan hubungan baik secara teratur antara organisasi dengan publiknya”. Untuk menyatukan ribuan definisi tersebut, para ahli telah mengambil banyak waktu untuk mendiskusikannya. Ada yang berpendapat, dengan ditinjau dari aspek komunikasi yang khas, yaitu komunikasi dua arah. Ada juga yang menyimpulkan bahwa PR merupakan hasil integrasi antara pemimpin dan organisasi. Dengan sendirinya, hal tersebut menyangkut manajemen dan keduanya tidak dapat saling terpisahkan.

Dari berbagai definisi yang ada sampai saat ini kata public relations terpaku pada hubungan antara organisasi dengan stake holder atau publiknya. Padahal melihat arti secara umum dari kedua kata tersebut tidak merujuk pada organisasi dengan stake holdernya. Hal ini bisa dilihat dari kata “Public” yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut “Publik” dengan arti masyarakat (umum). Sedangkan kata “Relations” bermakna hubungan. Jadi jika kedua kata tersebut disatukan maka jelas akan bermakna hubungan masyarakat.

Namun, entah kenapa para akademisi ilmu komunikasi menitik beratkan pada hubungan organisasi terutama organisasi profit dengan stake holdernya jika mendefinisikan istilah public relations yang sudah lama menjadi bidang keilmuwan. Padahal jika berbicara tentang masyarakat yang tergambar pertama kali bukan sebuah sistem organisasi, tetapi adalah kumpulan orang-orang dalam satu wilayah atau tidak. Meskipun masyarakat tidak bisa dipisahkan dari organisasi tapi jika berbicara organisasi maka yang tergambar adalah bagian dari masyarakat dengan strukturnya.

Selain itu, jika membahas tentang masyarakat maka pembahasannya akan lebih dekat dengan golongan, suku, ras, budaya, agama dan sebagainya, bahkan jika akan dibahas lebih melebar akan lebih dekat dengan sastra dan sebagainya. Sedangkan jika membahas organisasi maka pembahasannya lebih dekat pada sistem, manajemen, struktur, administrasi, dan sebagainya, bahkan jika dibahas lebih lebar maka akan lebih dekat pada dunia pemerintahan.     Maka dari itu, tidak heran jika ada sebagian orang masih belum memahami apa itu public relations yang ditetapkan oleh pakar akademisi dan praktisi public relations di seluruh dunia. Banyak yang menyangka public relations adalah hubungan antara kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya, atau antara satu suku dengan suku lainnya.

Di Indonesia kata public relations biasanya digunakan untuk organisasi profit seperti perusahaan. Sedangkan untuk organisasi non profit biasanya tidak disebut public relations tapi disebut hubungan masyarakat, meskipun secara fungsi sama saja hanya yang membedakan sebutannya atau bahasanya. Orang yang berperan sebagai public relations di organisasi profit bukan hanya menjadi penghubung antara organisasi dan masyarakat tapi juga bagaimana memoles organisasi tersebut citranya tetap positif di masyarakat. Sedangkan yang berperan sebagai hubungan masyarakat di organisasi non profit terutama di organisasi pemerintahan lebih menekankan pada penyampaian informasi antara dua belah pihak. Di sini bukan menekankan pada citra organisasi tapi bagaimana organisasi menjadi pelayan bagi masyarakat terutama dalam hal informasi.

Lagi-lagi muncul kebingungan di sini, peran hubungan masyarakat banyak yang namanya bukan hubungan masyarakat atau humas tapi ada yang menamakan PPID (Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi). PPID pun di sini ada yang mengatakan bagian dari hubungan masyarakat ada juga yang mengatakan hubungan masyarakat berada dalam lingkup PPID, semua ini tergantung pembuat kebijakan dari instansi atau organisasi itu sendiri. Melihat dari perbedaan kedua fungsi public relations dari kedua jenis organisasi yang berbeda tersebut organisasi profitlah yang paling pas dengan definisi public relations yang diciptakan oleh para pakar public relations di seluruh dunia. Dengan ini seakan-akan dunia public relations sangat sempit begitu pula dengan kajiannya. Padahal kata public dan relations memiliki banyak arti melihat asal kata tersebut.

Sebenarnya menurut penulis kata public relations bisa digunakan untuk semua hal yang berhubungan dengan relations atau hubungan. Public relations tidak hanya untuk organisasi profit dengan publik atau stake holdernya. Karena public relations itu luas sekali dan akan semakin berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Public relations sebagai cabang dari ilmu komunikasi seiring dengan perkembangan zaman sudah memiliki berbagai cabang seperti investor relations, goverment relations dan sebagainya. Seharusnya public relations sebagai bidang ilmu pengetahuan harus berdiri sendiri dengan definisi yang mencakup semua hal yang berhubungan dengan relations namun jelas. Sehingga tidak ada kebingungan dalam memahami public relations. Dengan definisi yang bermakna luas dan jelas maka bisa digunakan dengan semua hal yang berhubungan dengan relations tidak harus yang berhubungan dengan organisasi. Seperti ethnic groups relations, groups relations dan sebagainya.

 

foto penlis Sihabuddin
Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan lulusan tahun 2010 Asal Kadur. Saat ini sedang menempuh pendidikan tahap akhir di Pasca sarjana (S2) Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Facebook