Di zaman yang super canggih dan serba ada seperti saat ini, kalian pasti dengan mudah menemukan barang-barang yang dibutuhkan baik itu berupa kebutuhan pokok ataupun kebutuhan sampingan. Kita dapat dengan leluasa memdapatkan barang-barang yang diinginkan dan dapat diperroleh di berbagai tempat yang tersebar, hampir di semua tempat baik itu di toko, kedai, sampai super market yang sudah tidak asing lagi dimata kita.

Namun, kebanyakan barang yang kita beli adalah barang yang berasal dari negara luar (impor), lebih-lebih seperti barang eletronik ,makanan pokok seperti beras, gandum, dan masih banyak lagi barang-barang yang di impor dari negara luar. Alhasil impor barang yang sangat banyak dan pemasukan yang sangat sedikit mengakibatkan indonesia, negara kita ini memiliki hutang yang lumayan banyak. Selain masalah hutang yang menumpuk, indonesia juga memiliki masalah-masalah lainya yang juga perlu segera diatasi, yaitu salah satunya meningkatnya jumlah perokok dan korbang meninggal akibat mengkonsusi rokok terebut.

Rokok. Apakah rokok itu? Rokok adalah benda yang mengandung ribuan zat kimia berbaha yang dapat merusak beberapa fungsi atau organ tubuh. Jika dikonsumsi dengan jumlah yang banyak dan berkepanjangan maka dapat menyebabkan kematian. Diantara zat kimia yang terkandung dalam rokok tersebut adalah tar dan nikotin yang cukup banyak, adapun cara mengkonsumsi rokok tersebut dengan cara dihisap. Gejala atau efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi rokok secara banyak dan dalam jangka waktu yang lama adalah dapat menimbulkan rasa kecanduan dan sulit berhenti. Efek tersebut diakibatkan oleh zat-zat kimia seperti yang di sebutkan di atas.

Biasanya rokok ini digunakan untuk menghilangkan rasa lelah, kantuk, pusing (karena banyak pikiran), dan ada pula yang digunakan untuk menghilangkan bau mulut setelah makan, bahkan saking kecanduannya orang-orang menganggap atau menjadikan rokok sebagai kebutuhan pokok yang seakan-akan wajib dipenuhi setiap waktu. Sedangkan jika dilihat dari bukti-bukti yang telah ada rokok tersebut lebih banyak mudharotnya dari pada mamfaatnya. Adapun dampak negative dari rokok tersebut seperti; kangker, gangguan pernafasan, gangguan kehamilan, dan janin (husus orang yang hamil).

Untuk menanggulangi atau meminimalisir hal tersebut pemerintah tepatnya presiden Joko widodo berencana untuk menaikkan harga rokok dua sampai tiga kali lipat dari harga yang biasa dijual di toko-toko. Menurut Jokowi jika harga rokok dinaikkan dua sampai tiga kali lipat orang akan berpikir panjang untuk membeli rokok, tentunya rencana tersebut mendapatkan tanggapan yang berbeda-beda dari masyarakat, ada yang berpendapat positive dan mendukung atas rencana Jokowi tersebut. Namun, ada juga yang berpendapat negative dan menolak atas rencana Jokowi untuk menaikkan harga rokok.

Tentunya rencana Jokowi untuk menaikkan harga rokok juga dirasakan oleh kaum santri, apalagi di Pesantren yang memang undang-undangnya memperbolehkan santrinya untuk merokok. Contonya saja di pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata tercita ini yang memper bolehkan santrinya untuk merokok.

Rencana Jokowi untuk menaikan harga rokok tersebut pastinya akan jelas berpengaruh terhadap ekonomi santri, sebab jika harga rokok benar-benar akan naik maka otomatis santri khususnya santri yang merokok akan merasa sangat dirugikan sebab, harga rokok yang begitu mahal pastinya akan menambah pengeluaran uang santri jika santri tersebut masih tetap merokok.

Apalagi jenis rokok yang dipilih atau dikonsumsi santri tersebut jenis rokok yang mempunyai harga jual yang tinggi seperti halnya sampoerna, marboro dan jenis rokok yang sama-sama mempunya harga yang mahal. Jika harga rokok benar benar dinaikkan maka juga akan berdampak pada orang tua santri tersebut. Pasalnya, jika harga rokok benar-benar naik, sedangkan santri tersebut masih saja merokok, otomatis kiriman santri tersebut juga ikut naik.

Memang, rencana Jokowi untuk menaikkan harga rokok tidak akan berdampak serius bagi santri yang mempunyai ekonomi yang cukup (kaya). Namun sebaliknya bagi yang memiliki tingkat ekonomi menengah kebawah (sederhana), hal itu jelas akan sangat sangat berpengaruh terhdap tumbuhnya ekonomi santri. Misalnya seorang santri menghabiskan uang sebesar Rp. 10.000 sampai Rp. 20.000 per-hari, bayangkan jika harga rokok benar-benar naik dua sampai tiga kali lipat dari harga sebelunya, berapa banyak uang yang harus mereka keluarkan setiap hari (bagi santri yang masih merokok). Permasalahan tersebut perlu kita bahas dan cermati, karena jika hanya terdiam dan tidak berpikir panjang atas apa yang terjadi kita dapat menyusahkan orang lain.

Beda halnya dengan santri yang tidak merokok, rencana Jokowi untuk menaikkan harga rokok tersebut sangat menguntungkan, sebab asap rokok yang biasanya mengarungi kamar dan menguasai kamar mungkin akan berkurang. Melihat dari berbagai aspek, banyak dampak negative yang ditimbukan oleh rokok tersebut. Bukan hanya perokok yang akan merasakan dampaknya, melainkan orang-orang yang berada disekitar nya pun akan terkena akibatnya juga.

Jika kita berpikir jernih kenaikan haraga rokok tersebut juga dapat menutup utang negara yang sekarang sudah sangat banyak ini. Menurut penilitian jika harga rokok dinaikkkan, dalam waktu tiga tahun saja pemasukan negara akan bertambah sebanyak Rp200 triliun. Mungkin hal tersebut merupakan salah satu dari berbagai alasan bagi Presiden Rebublik Indonesia, Joko widodo. untuk menaikkan harga rokok dua sampai tiga klilipat dari harga normal yang sudah biasa di jual di berbagai tempat sebelumnya.

foto penlis Achmad Sajjad Ahsanul Abidin
Santri Aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata asal Sentol Pademawu Pamekasan, Daerah B/05, Kelas VIII MTs MIPA Facebook