Berbicara mengenai manusia yang sangat komplek dan fleksibel seperti halnya yang diungkapkan oleh B. F Skinner (tokoh Psikologi pemuka behavioristik), penulis ingin mengajak pembaca mengkaji tentang manusia, sepertia apa itu manusia. di sini penulis akan melakukan dua pendekatan tentang bagai mana manusia itu sendiri. Pertama secara Quran, kedua melalui Psikologi.
Sebagai mana diketahui bahwa, dalam Quran menegaskan kualitas dan nilai manusia dengan menggunakan tiga macam istilah untuk penyebutan terhadap manusia itu sendiri yang satu sama lain saling berhubungan, yakin Al-insan (Al-Sajdah. 7), Al-basyar (Al Rum. 20), dan Bani Ada (Qs Al-Isra. 70).

Manusia disebut insan, karena dia sering berada di posisi pelupa sehingga diperlukan teguran dan perintah. Manusia disebut al-basyar, karena dia cendrung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan damaikan. Manusia di sebut sebagai Bani Adam, karena dia menujukan pada asal usul manusia yang bermula dari Nabi Adam, sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia berasal-usul, untuk apa dia hidup, dan harus ke mana dia kembali.
Penggunan istilah Bani Adam menunjukan bahwa manusia bukanlah merupakan hasil dari evaluasi dari mahluk anthropus (sejenis kera) seperti yang dikemukan oleh para tokoh evolusi, J. B De Lamarck (1774-1829 M), charles Darwin (1809-1882 M), dan Alfred Russel Wilance (1823-1913 M).

Manusia dalam pandangan Quran bukanlah mahluk anthropomorfisme, yaitu berupa penjasatan Tuhan. Atau mengubah tuhan menjadi manusai. Quran menggmbarkan manusia sebagai mahluk theoformis yang memiliki sesuatu yang agung dalam dirinya.
Di samping itu, mausia dianugrahkan akal yang memuminkinkan mebedakan antara nilai-nilai baik dan buruk, sehingga membawa dia pada suatu kualitas tertinggi sebagai manusia takwa. Hal ini juga sering disebutkan dalam bergai pendapat ulamak terdahulu, kualitas manusia bisa lebih baik dari pada Malikat dan bisa lebih buruk atau terdegradasi di bawah binatang.
Quran memandang manusia sebagai fitrahnya yang suci dan mulia, bahkan bukan yang penuh kotor dan dosa. Peristiwa yang menimpa Nabi Adam dan istrinya (Hawa) sebagai cikal bakal manusia, di mana melakukan larangan Tuhan, dan mengakibatkan mereka di keluarkan dari Surga.

Dengan ini tidak bisa di jadikan argumen bahwa manusi pada hakikatnya adalah pembawa dosa, seperti yang diungkapkan oleh kalangan orang yang beragama Kristen tentang asal, dan alasan kenapa Yesus di Salib untuk menebus dosa bawaan manusia, yang merujuk pada pembengkangan Adam dan Istrinya di surga.

Quran justru memuliakan manusia sebagai mahluk Surgawi yang sedang dalam perjalanan menuju suatu kehidupan spiritual menuju alam yang dijanjikan yaitu Akhirat, meskipun dia harus melewati berbagi rintangan cobaan dengan beban dosa saat melakukan kesalahan di dalam dunia ini.

Karena itu, kualitas, dan kesejatian manusia adalah baik, benar, dan indah. Tidak ada mahluk di mika bumi ini yang memiliki kualitas dan kesejatian semulia itu. Namu, di balik yang sebutkan diatas manusia juga mempunyai sisi buruk, salah, dan jelek, serta menjadi batu sandungan bagi manusia untuk meraih prestasi sebagai manusia muttaqin.

Gambaran Quran tentang kualitas dan hakikat manusia mengigatkan penulis pada teori superego dan ego yang dikemukakan oleh tokoh Psikologi Analisa yaitu Sigmud Freud, ia sering dijadikan kutipan oleh cendekiawan muslim tentang kualitas manusia. menurut Freud superego selalu mendampingi ego. Jika ego yang mempunyai berbagai tenaga pendorong yang sangat kuat dan vital (libio bitalis) sehingga penyaluran dorongan ego ¬– atau nafsu lawwamah (nafsu buruk)—sebenarnya tidak mudah menenpuh jalan melalui superego atau nafsu yang baik (muthma’innah). Karena superego (nafsu muthma’innah)berfugsi sebagai badan sensor atau pengedali ego manusia.

Sebaliknya, superego pun sewaktu-waktu bisa memberikan justifikasi terhadap ego manakala instik, intuisi, dan intelegerasi—ditambah petunjuk wahyu bagi orang yang beragama—bekerja secara matang dan integral. Artinya, superego bisa memberi pembenaran pada ego manakala ego bekerja pada rah yang positif. Ego yang liar dan tak terkendali adalah ego yang merusak kualitas dan hakikat manusia itu sendiri.

Apabila dibandingkan dengan mahluk tuhan yang lain, manusialah satu-satunya unsur yang dapat disebut sebagai mahluk yang kualitataif, atau mahluk yang dapat membina dirinya secara moral. Malaikat yang tanpa subtansi instinsik (nafsu) dan free dari perbuatan dosa, tidak dapat turun kualitas moralnya ke kualitas manusia dan binatang.
Demikian dengan binatang yang tanpa subtansi intelegrasi (akal), tidak mungkin kualitas dirinya naik menjadi manusia atau malaikat. Begitu juga Malikat yang oleh Allah dikarunia instink, tanpa nafsu.

Jadi manusia, seperti apa yang telah disebutkan di atas, kulitasnya bisa lebih tinggi dari pada Malikat, seperti halnya Nabi Mumuhammad ketika malikat Jibril tidak mampu mengantarkan Nabi Muhammad ke Sidratulmuntaha. Sebaliknya, kulitas manusia bisa turun lebih rendah dari pada binatang, kalau manusia itu sendiri lalai menguasainya dirinya sendiri.
Hal demikian seperti halnya manusia yang mempunyai hati tetapi hatinya tidak dipergunakan secara sebaik mungkin. Jadi tatkala ditarik secara kesimpulan, manusia adalah tergantung atara nurani dan naluri yang mengontrolnya.

foto penlis Kanzul Fikri
Taretan IMABA, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook