Ngaji Wawasan Kepesantrenan; Aktualisasi Pesantren di Tengah Modernisasi

ADMINPESANTREN Selasa, 23 Maret 2021 22:34 WIB
435x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren Pekan Ngaji

Bata-Bata — Setelah sukses menyelenggarakan berbagai varian seminar terhitung sejak 17 Maret lalu dan terdorong atas nilai dari tema Pekan Ngaji 6 yakni “Sharing the usefulness”, panitia pelaksana Pekan Ngaji 6 rasanya masih belum puas untuk menyebar kemanfaatan, terbukti dengan terselenggaranya Ngaji Wawasan Pesantren bertemakan ”المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح.” pada Senin malam, (21/03/21) bertempat di pelataran musholla putra.

Ngaji tersebut diisi langsung oleh KH. Achmad Romli Fakhri selaku alumni Pondok Pesantren Mambaul ulum Bata-Bata yang mana beliau juga aktif menjabat sebagai Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kokop, Bangkalan. Bertindak mendampingi beliau yakni mantan ketua Dewan Ma’hadiyah Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Ustadz Imam Syafi’ie, S.Pd sebagai moderator.

Dalam prosesi penyampaian materi, KH. Achmad Romli Fakhri memulai materi dengan menceritakan garis besar histori kemerdekaan Indonesia yang tak luput dari peran pesantren. Menurutnya, Indonesia dan pesantren merupakan satu kesatuan, mengingat betapa menggeloranya semangat juang dari para kyai dan santri pada waktu itu. “Dulu, kyai-kyai sepuh kita, di antaranya (alm.) RKH. Abdul Hamid Baqir adalah pejuang dan bahkan panglima divisi Jawa Timur,” tuturnya. Dia juga menjelaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang begitu relevan saat ini, pasalnya sekolah-sekolah di luar pesantren sudah begitu jauh dari nilai keilmuan itu sendiri. “Pesantren itu mendidik bukan mengajar. Saat ini orang mengajar itu banyak, tapi orang yang mendidik itu sulit ditemui,” terang tokoh asal Bangkalan tersebut.

Beliau juga memaparkan bahwa lafadz al-Akhdzu bi al-jadid al-Aslah (khalaf) merupakan sebuah kesatuan yang tak bisa dipisahkan dari lafadz al-Muhafdzotu ala al-Qodimi as-sholih (salaf). “Jadi kita mengambil sesuatu baru yang tentunya lebih baik tanpa melupakan tradisi lama yang sudah baik, atau istilahnya mengkolaborasikan,” paparnya.

Di sisi lain beliau prihatin mengingat dewasa ini kebanyakan lembaga pendidikan malah menghilangkan lafadz as-ashlah dan menggantinya dengan al-Akhor, sehingga berakibat perombakan besar-besaran. “Bahkan tak jarang ditemui, para masyarakat beranggapan bahwa kitab kuning itu sudah tidak relevan dan menggantinya dengan buku-buku khalaf,” tuturnya. Maka dari itu, beliau berharap para santri nantinya bisa menjaga kestabilan antara al-Qadim dan al-Jadid, “Terlalu salaf itu kuno dan terlalu modern nanti malah liar,” tukasnya di akhir materi.

Ngaji tersebut berjalan khidmat, para santri terlihat antusias menjalani ngaji tersebut. Bahkan ada beberapa santri yang tertarik menanyakan sesuatu yang mengulik materi, “Demoralisasi saat ini sudah tidak memandang itu pesantren salaf maupun modern, kira-kira penyebab besar demoralisasi itu apa,” tanya Moh. Farhan pada saat sesi dialog interaktif. (Fud)