Ramadan dan Alasan Bertahan dalam Ketaatan

MAJID Jumat, 30 April 2021 07:38 WIB
441x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Zuyyinah*

Menjadi umat Nabi Muhammad saw. adalah sebuah nikmat agung yang harus selalu disyukuri. Dalam banyak hal, umat Nabi Muhammad saw. lebih istimewa dari pada umat nabi-nabi sebelumnya. Salah satu keutamaan yang nyata dan sedang kita rasakan saat ini adalah puasa Ramadan. Pada bulan Ramadan ini ada lima keutamaan yang Allah berikan kepada kita sebagai umat Muhammad dan tidak diberikan kepada umat lainnya. Pertama, Allah Swt. akan memandang kita pada malam pertama Ramadan. Kedua, aroma mulut orang yang berpuasa lebih harum dari minyak misik. Ketiga, senantiasa memperoleh do’a Malaikat. Keempat, Surga pun ikut bahagia. Kelima, memperoleh ampunan Allah Swt. pada malam terakhir. (Keberkahan Ramadan. Hal 6-8)

Sungguh tidak ada alasan untuk bermalas-malasan pada bulan penuh berkah ini. Mengingat keutamaan-keutamaan yang Allah berikan, seyogiyanya kita mencari tahu bagaimana caranya agar tetap bertahan dalam ketaatan selama bulan Ramadan. Karena kita melihat saat bulan Ramadan tiba, orang-orang memenuhi masjid, terutama pada malam-malam pertama, lalu semakin lama jumlahnya semakin berkurang. Akan tetapi banyak juga yang semakin tinggi semangatnya (sampai) pada malam-malam terakhir. Lalu apa yang membuat semua itu terjadi? Apa yang menyebabkan mereka tetap bertahan di jalan Allah? Tentu hal itu terjadi karena adanya sebuah dorongan (al-ba’its) yaitu sesuatu yang membuat kita ingin tetap berada dalam kenikmatan mengingat Allah Swt. Habib Ali Al-Jufri dalam bukunya yang berjudul Ayyuhal Murid menjelaskan, menurut ulama, dorongan adalah salah satu tentara Allah yang tersembunyi. Bisa pula sesuatu yang dimasukkan Allah Swt. ke dalam hati seseorang, ia masuk ke hatinya dan bangkit menjadi satu keinginan.

Sementara dorongan tersebut bisa lahir karena beberap faktor. Di antaranya karena takut. Kita manusia takut akan siksa neraka, ancaman-ancaman yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga Hadis. Hal itu bisa mempengaruhi lahirnya dorongan dalam diri kita untuk tetap berada dalam ketaatan. Faktor lain yang juga menjadi sebab lahirnya dorongan tersebut yaitu karena rindu atau cinta. Sebagaimana disebutkan tentang siksaan dan panasnya api neraka, tentang keindahan surga juga banyak diceritakan, dan tentang bagaimana Allah Swt. menyambut hamba-hamba-Nya yang datang menengadahkan tangan. Rasulullah juga mengabarkan dalam Hadis-hadisnya bahwa setiap akhir malam Allah Swt. memanggil, Adakah yang memohon ampunan kepadaku? Adakah yang bertobat? Adakah yang memiliki hajat? Demi Dzat Pemiliki alam semesta, hal buruk apa yang sudah kita perbuat hingga kita terhalang dari mendengar dan memenuhi panggilan tersebut, semoga Allah mengampuni kita semua. Sering-seringlah menghadiri majlis ilmu serta bergaul dengan orang-orang sholeh, karena di antara lahirnya dorongan, juga disebabkan oleh faktor lain, di luar diri kita. 

Pada bulan Ramadan, pintu-pintu neraka ditutup, dan pintu-pintu surga dibuka. Setiap pagi dan sore, dikumandangkan panggilan yang berbunyi, Ya baaghiyal khair aqbil, ya baaghiyas syar aqshir, wahai pencari kebaikan datanglah, wahai pencari keburukan kurangilah. (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah). Sungguh ia adalah bulan istimewa, pahala dilipat gandakan sedemikan dahsyatnya. Betapa meruginya kita yang menyia-nyiakan dan tetap asyik dengan hal-hal tidak bermanfaat yang justru memalingkan kita dari ingat kepada Allah Swt. Ramadan sebentar lagi akan berlalu, musik khas yang dihasilkan dari sutil dan wajan ibu-ibu yang saling bersaut-sautan antar dapur tidak akan lagi terdengar saat menjelang berbuka dan sahur. Lantunan-lantunan ayat suci dan suara ‘amin’ yang memenuhi langit-langit masjid saat tarawih berjamaah dilaksanakan akan segara dirindukan. Halaqoh-halaqoh kecil tadarus Al-Qur’an akan kembali terhalang oleh kesibukan-kesibukan duniawi dan juga kemalasan. Sudahkah kita rela melepasnya pergi? Atau justru abai dan tidak peduli sama sekali?

Ramadan belum berlalu, kita masih punya waktu. Kita tahu bahwa pada bulan ini, terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni malam Lailatul Qodar. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad dikatakan, “Lailatul Qadar berada di bulan Ramadan pada sepuluh hari terakhirnya, yaitu malam kedua puluh satu, atau kedua puluh tiga, atau kedua puluh lima, atau kedua puluh tujuh, atau kedua puluh sembilan, atau di akhir malam Ramadan. Barangsiapa shalat malam karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau dan dosa yang kemudian.” Maka mari kita gunakan waktu yang tersisa dari bulan penuh ampunan ini untuk meningkatkan amalan-amalan ukhrawi. Rasulullah saw. juga telah mensunnahkan pada kita untuk  mengisi bulan ini dengan berbagai macam ibadah, dengan i'tikaf terutama di 10 hari terakhir, dengan mengkaji Al-Quran, maka gunakanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, karena waktu ini akan terus berjalan seperti berjalannya awan. (Nafahat Ramadaniyyah. Hal 18)

Jika belum mampu menghidupkan bulan dengan beribadah, setidaknya menghormati yang akan pergi, yakni dengan mengurangi keburukan serta menahan diri dari senda gurau. Semoga kita dimenangkan melawan hawa nasfu dan kemalasan di sisa bulan Ramadan ini, dan semoga kita bisa berjumpa kembali dengan bulan Al-Quran di tahun yang akan datang. Aamiin, Wallahu a’lam.

 

* Penulis adalah Eks. Ketua Umum DPP Puteri IMABA Periode 2018- 2021.