Benarkah Bau Mulut Orang Berpuasa Seperti Minyak Misik?

MAJID Selasa, 4 Mei 2021 07:28 WIB
272x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Luk MR*

Puasa merupakan serangkaian ibadah mahdah, yang  dalam arti sempit bermaksud aktivitas yang sudah ditentukan syarat rukunnya. Saat berpuasa setiap muslim harus mencegah masuknya makanan atau sesuatu ke dalam lubang tembus. Tidak hanya itu, puasa juga mencegah diri untuk melakukan maksiat.

Keadaan yang demikian – tidak makan atau minum – menjadikan mulut kita kering sehingga produksi air ludah sedikit. Hal inilah salah satu penyebab bau mulut saat puasa atau dalam istilah kedokteran biasa disebut Helitosis (tercium bau tidak sedap saat menghembuskan nafas baik dari mulut atau hidung).

Menurut dokter spesialis gigi, Riza Maqfira penyebab Helitosis ada dua;

1. Indra Oral, seperti:

- Gigi berlubang

- Infeksi pada gusi

- Lidah kotor

- Adannya plak pada gigi

2. Ekstra Oral, bisa karena:

- Mengkonsumsi alkohol, kopi, rokok atau makanan yang berbau tajam seperti bawang, keju, jengkol, ataupun petai

- Karena penyakit sistemik tanpa pasien sadari, seperti diabetes militus, kelainan pada ginjal ataupun fungsi hati.

Nah dari sederet penyebab bau mulut di atas, yang manakah penyebab bau mulutmu?, silahkan segera atasi atau konsultasi ke dokter.

Helitosis atau bau mulut menjadi hal yang sangat menganggu pastinya dan menjadikan kita kurang percaya diri ketika bergaul dengan orang lain. Pada masa Rasulullah, hal ini mendapat perhatian langsung dari beliau. Beliau pun bersabda;

“Demi Dzat yang berkuasa atas diriku, sungguh bau mulut orang berpuasa itu lebih wangi menurut Allah dari pada bau minyak misik” HR Bukhori.

Dari hadits ini mindset masyarakat bermacam-macam. Sebagian ada yang salah kaprah menanggapi hadits ini dan mengira bahwa yang menjadi patokan adalah bau mulutnya. Semakin berbau tidak sedap, maka semakin bertambah kadar keharuman minyak misiknya menurut Allah, sehingga tidak perlu membersihkan mulut saat bulan puasa.

Hal ini selain kaitannya dengan masyarakat (interaksi sosial), juga berkesinambungan dengan akidah, karena dengan kepercayaan Allah mampu mencium bau, kita menyamakan Allah dengan makhluk, beranggapan Allah memiliki indra penciuman layaknya manusia, padahal kita sudah tahu bahwa Allah ليس كمثله شيء.

Lantas seperti apa sebenarnya pengertian hadits ini? Mengutip dari buku Kumpulan Hadits Qudsi Pilihan, Syaikh Fathi Ghanim, mengatakan bahwa pemaknaan hadits ini bukan secara teksual, akan tetapi berdasarkan makna majaz (bukan arti sebenarnya) dan isti’aroh.

Imam Al Bujairimi dalam Tuhfatul Habib Ala Syarhil Khatib menjelaskan lebih lanjut dalam hal ini. “Yang dimaksud dalam sabda Rasulullah ‘lebih wangi menurut Allah’ adalah lebih wangi dari bau minyak misik yang diperintahkan Allah untuk memakainya ketika hari Jum’at dan dua shalat Ied, atau maksudnya adalah pahalanya lebih banyak dari pada pahala menggunakan minyak misik pada hari Jum’at atau dua hari raya. Sungguh mencium adalah hal yang mustahil bagi Allah sehingga yang dimaksud ‘lebih wangi menurut Allah’ adalah pujian dan ridho-Nya terhadap orang yang berpuasa”.

Meskipun demikian ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa akan mendapat balasan di akhirat kelak. Qodhi Iyadh mengatakan di akhirat kelak Allah akan membalas orang yang berpuasa dengan bau wangi di mulutnya yang mengalahkan bau misik.

Pada akhirnya kita sebagai umat muslim yang beriman semoga semakin kental aura keimanannya. Menjaga kebersihan mulut saat berpuasa adalah keharusan, usahakan untuk menyikat gigi minimal 2x yakni setelah berbuka dan saat sahur, mengonsumsi buah dan sayur, serta meminum air secukupnya di malam hari. Hal tersebut merupakan upaya meminimalisir bau mulut. Karena bagaimanapun interaksi antar teman maupun saudara harus dijaga dan buatlah senyaman mungkin.

* Santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata asrama al-Karimah.