Menguak Makna Lailatul Qadar Yang Sesungguhnya

ADMINPESANTREN Jumat, 7 Mei 2021 06:51 WIB
442x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Muchtar Makin Yahya*

Salah satu amaliah mulia yang dirindukan umat Islam di bulan Ramadan adalah fenomena Lailatul Qadar, yaitu malam penuh kemuliaan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai jembatan akan kebangkitan umat Islam. Selain itu Lailatul Qadar dikenal sebagai malam diturunkannya rahmat, Malaikat dan seluruh pembawa keberkahan dengan serentak diturunkan pada malam kemuliaan itu. Karenanya tidak heran jika umat Islam, khususnya pada sepuluh terakhir, berlomba-lomba mendekati Rabbnya dengan: membaca Al-Quran, berzikir, beriktikaf, demi meraih cahaya suci Lailatul Qadar.

Histori Lailatul Qadar

Lailatul Qadar pada era permulaan Islam belum diberlakukan seketika seperti praktik-praktik ibadah lainnya. Malam itu bermula dari rasa kepo Nabi Saw. usai mendengar kabar kriteria ibadah hamba terbaik (shaleh) Bani Israil. Rata-rata kriteria kebaikan umat Nabi Musa itu harus ditempuh dalam fase-fase kesulitan setelah rela fokus berbuat kebajikan berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun. Bila mereka lulus melaksanakan ibadah dengan durasi waktu yang sangat lama tersebut, baru mereka diperkenankan mendapat sertifikat kelulusan sebagai “Hamba Tuhan yang Terbaik.”

Ibnu Jarir, guru besar tafsir kenamaan menceritakan bahwa cikal bakal Lailatul Qadar terinspirasi dari lelaki Bani Israil setelah memantapkan dirinya untuk shalat malam sampai fajar tiba. Lalu dilanjutkan siang harinya dengan jihad memerangi musuh-musuh sampai sore hari. Ibadah ini mereka lakukan selama berbulan-bulan hingga akhirnya mereka menyandang titel “Lelaki Shaleh Hakiki”.  Shahdan, Masih menurut Ibnu Jarir, ketika Rasulullah mengisahkan empat lelaki inspirator Bani Israil yang dikenal shaleh nan sukses beribadah selama delapan puluh tahun lamanya. Selama waktu tersebut, mereka senantiasa berbuat kebaikan dan tidak pernah sedikit pun bermaksiat kepada Allah Swt. hingga puncaknya mereka diberi gelar sebagai orang-orang shaleh. Keempat inspirator tersebut ialah Ayub, Zakaria, Hazkil bin ‘Ajuz, dan Yusya’ bin Nun.

Riwayat Ibnu Jarir pada dasarnya menekankan realitas ibadah yang harus dicapai melalui durasi waktu yang sangat lama, yaitu delapan puluh tahun atau lebih. Pautan waktu ini tentu sangat susah dan hampir jarang dilakukan umatnya, termasuk generasi milenial. Nabi mengerti bahwa usia umatnya terbatas, pendek dan mereka tidak mampu –jika enggan berkata sulit- berbuat amaliah-amaliah berbulan-bulan seperti dilakukan Bani Israil. Karena itu dengan penuh harap Nabi memohon kepada Allah Swt. agar memberi pahala ibadah seperti orang-orang Bani Israil tanpa harus mempersulit umatnya. Dan atas dasar tersebut Allah kemudian mengabulkan permintaan Nabi -demi umatnya, sehingga turunlah apa yang dikenal Lailatul Qadar.

Esensi Lailatul Qadar

Dalam tradisi tafsir, Lailatul Qadar menampilkan makna beragam. Lailatul Qadar merupakan malam kehormatan dan kemuliaan di mana Al-Quran - petunjuk umat Islam, diturunkan pertama kali dari lauhul Mahfuz ke langit dunia, Baitul Izzah (lapisan langit terbawah) sebagai pemisah antara kebangkitan peradaban Islam dan periode hitam masyarakat Jahiliyah. Selain itu, Lailatul Qadar dihadirkan sebagai satu-satunya malam diturunkannya kedamaian, ketenangan hingga fajar pagi terbit dari timur -tanpa ada sebutir keburukan diturunkan. Karena itu pada malam itu kita dianjurkan fokus meramaikannya dengan ritual-ritual ketaatan nan kemuliaan seperti qiyamul lail, tahajud dan berdoa kepada Sang Khalik. Demikian ungkapan Sayyid Thantawi dalam bukunya, At-Tafsir Al-Wasith.

Pendapat lain mengemukakan bahwa Lailatul Qadar bermakna takdir Tuhan dengan dasar, Dialah yang mentakdirkan dan menggerakkan segala urusan makhluk-Nya di dunia ini, baik berkenaan dengan laku terpuji dan tercela selama satu tahun ke depan.

Menarik ditelaah, kedua pendapat di atas secara tidak langsung sama-sama dihadapkan pada pemaknaan positif Lailatul Qadar dalam menebarkan kemuliaan dan kedamaian di antara makluk-Nya. Pemaknaan semacam ini perlu kita tranformasikan kembali menimbang kondisi masyarakat sosial saat ini sedang mengalami ketimpangan spiritual dan sosial. Ungkapan ini agaknya senafas juga dengan persepsi Dr. Wahbah Zuhaili, ulama kontemporer lulusan Al-Azhar, di dalam tafsirnya At-Tafsir al-Munir. Menurutnya Lailatul Qadar -setelah mengomentari surah Al-Qadr, setidaknya terdapat beberapa pemaknaan yang dapat kita tarik dalam pengaplikasian fikih sosial:

Pertama: Malam Lailatul Qadar sebagai malam mulia, agung, malam keputusan dan ketentuan di mana Allah Swt. mentakdirkan segala urusannya dalam setahun ke depan, seperti kematian, ajal, rejeki dan takdir-takdir lainnya. Kedua:  Ritual ibadah pada malam Lailatul Qadar lebih utama dari pada seribu bulan, dibanding di luar Lailatul Qadar. Ketiga: Pada malam itu, para Malaikat dan kru-krunya turun ke bumi seraya ikut mengaminkan permintaan-curhatan hamba-Nya hingga fajar. Keempat: Lailatul Qadar dihadirkan sebagai malam perdamaian, sejahtera, kebaikan dan keberkahan. Di malam itu pula, Allah Swt. tidak menurunkan urusan-urusan lain kecuali keselamatan dan kedamaian teruntuk seluruh makhluk-Nya.

Lebih jauh, uraian At-Tafsir Al-Munir mengupayakan pemaknaan Lailatul Qadar secara kolaboratif, antara membangun ikatan spiritual dan sosial. Secara fitrah, agama Islam dihadirkan untuk menebar sinar kebaikannya kapan dan di mana pun umatnya berada. Lebih-lebih di zaman media sosial di mana nilai-nilai ruhani (sebagian) dari kita terasa kering dan atau kehilangan arah dengan ditandai mudahnya mengeluh terhadap keadaan, mengabaikan kebaikan, mager dan enggan menerima takdir yang telah ditentukan gusti Allah Swt. Kondisi ini -tak diragukan lagi dengan pelan, memberi dampak buruk terhadap laku sehari-hari, baik dalam tingkah secara personal maupun sosial.

Ketika demikian langkah solutif untuk membasahi kembali jiwa-jiwa yang kering itu yaitu dengan hijrah kepada Sang Pemilik Alam seraya tenggelam dalam doa, dzikir serta membaca Al-Quran pada momen mulia Lailatul Qadar.  Sekian!

Bangkalan, 05-05-2021

* Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata tahun 2015 sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Mahasiswa Bata-Bata Mesir periode 2019-2020.