Generasi Alfa dalam Bayang-Bayang Teknologi

ADMINPESANTREN Selasa, 25 Mei 2021 07:02 WIB
144x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Akhir-akhir ini banyak sekali diperbincangkan soal generasi alfa yang diproyeksikan akan menjadi generasi paling cerdas kelak. Generasi alfa tidak sebatas persoalan tahun kelahiran. Bukan juga persoalan nama generasi setelah generasi veteran, generasi X, generasi Y, dan generasi Z, yang kemudian kini lahir generasi alfa.

Sederhananya, secara periodik, generasi alfa adalah generasi yang lahir berkisar antara tahun 2011 sampai 2025. Orang tuanya rata-rata adalah generasi Y, sementara abang-nya adalah generasi Z yang lahir 10-15 tahun sebelumnya.

Kini, di penghujung tahun 2020, generasi alfa masih terbilang bocah. Sebagian dari mereka mungkin sudah mengenyam bangku Sekolah Dasar, Taman Kanak-Kanak, namun banyak pula yang masih menyusui, dikandung, bahkan bisa saja bakal calon orang tuanya masih belum menikah.

Mirisnya, dengan kapasitas usia yang cenderung terbilang dini ini, generasi alfa diklaim sebagai generasi yang paling melek terhadap teknologi. Generasi alfa diprediksi tidak akan bisa lepas dari gadget. Oleh karenanya, bocah-bocah kini tidak lagi bermain gundu, petak umpet, ataupun masak-masakan. Gadgetlah yang justru menggantikan semua itu. Permainan dan hiburan hadir dengan begitu mudah, cepat, instan, dan para orang tuapun membiarkan.

Kenapa dibiarkan? Realitas ini membentuk sistem pola. Mindset dan mental gadget itulah yang awalnya menggandrungi pola pikir para orang tua. Dalam setiap lini kehidupannya, manusia dewasa identik dengan gadget. Sehingga, jika anak kecilnya merengek, barang utama yang akan disodorkan untuk menghibur si anak adalah gadget. Sebab, sudah tercipta klausul pemahaman bahwa gadget adalah solusi dari semua persoalan. Oleh karena itu, terbentuklah pola perilaku lintas generasi terkait penggunaan gadget yang diposisikan hanya berdasarkan tuntutan kebutuhan usia.

Para orang tua yang kini telah kecanduan gadget, mungkin masih bisa berpikir sehat dengan memfilter sisi positif dan negatifnya. Namun, apa yang mesti diperbuat oleh seorang bocah yang belum mengerti apa-apa. Maka hasilnya adalah generasi alfa akan kurang bersosialisasi, kurang daya kretivitas, dan lebih bersikap individualis. Generasi alfa akan lebih mengutamakan hasil memuaskan yang didapat secara instan tanpa menghargai sebuah proses. Keasyikan mereka dengan gadget akan membuat mereka terasingkan secara sosial.

Berdasarkan seluruh aspek kehidupan, maka peran keluargalah yang paling penting dalam proses tumbuh kembang generasi alfa. Jika objeknya adalah generasi alfa, maka peran vital menjadi tanggung jawab generasi Y dan Z sebagai pengambil keputusan dan pemandu, sementara generasi veteran dan X berperan sebagai konselor dan pendamping sehingga terbentuk kolaborasi peran lintas generasi.

Oleh sebab itu, peran orang tua dalam memfilter sisi negatif teknologi yang sudah dikenalkan sejak dini kepada anak begitu penting. Generasi alfa yang cenderung antisosial karena terobsesi dengan gadget, harus diarahkan oleh orang tua dengan mengenal dunia di luar rumahnya. Ajak mereka bersilaturahmi, mengenal sanak kerabatnya. Berikan sugesti kepada anak bahwa kehidupan nyata jauh lebih indah dan menyenangkan, sementara kehidupan maya hanyalah berisi hiburan sesaat dan ladang informasi yang tidak didapatkan secara praktis di kehidupan nyata.

 Generasi alfa yang juga cenderung lebih mengutamakan hasil instan, harus dikenalkan dengan pentingnya sebuah proses. Berikan pula keteladanan dan kembangkan sikap-sikap afeksi serta psikomotoriknya untuk menunjang sisi kognitif yang telah diserapnya dari gadget. Jangan lupa pula untuk senantiasa terbuka mendengar komentar dan keluh kesahnya, meskipun itu adalah hal-hal irasional seperti menanggapi adegan kartun kesukaannya. Berilah komentar yang positif dan edukatif, bukan malah menyepelekan atau membingungkan.

Utamanya, sebagai generasi alfa yang “muslim”, orang tua harus senantiasa mengajarkan mereka nilai-nilai agama, moral, dan etika, agar terbiasa bijak dalam menggunakan teknologi. Kedekatan generasi alfa dengan teknologi bukan lantas membuat orang tua menjauhkan mereka untuk mengubah kepribadiannya. Kalau itupun dilakukan, dampak negatif lainnya yang akan hadir. Mereka akan dipandang sebelah mata kelak, jika gagap dalam hal teknologi. Dan itulah yang mesti kita khawatirkan sebagai umat Islam sebagaimana tersirat dalam Alquran surah An-Nisa’ ayat 9. Umat Islam akan kalah bersaing dan semakin terbelakang. Naudzubillah min dzalik. (Redaksi)