Hari Kembali Pesantren; Pengembaraan Ilmu Kembali Dimulai

ADMINPESANTREN Jumat, 28 Mei 2021 06:26 WIB
1142x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Nurullah*

Imam Malik seorang ulama’ karismatik, pernah diminta oleh seorang raja agar datang padanya untuk membacakan kitab Muwatha’ karangan beliau, maka Imam Malik berkata:

اَلْعِلْمُ يُزَارُ وَ لَا يَزُوْرُ وَ إِنَّ الْعِلْمَ يُؤْتَى وَ لَا يَأْتِيْ

“Ilmu itu seharusnya dikunjungi bukan mengunjungi”

Berlatar belakang perkataan beliau, kita selaku kaum sarungan maka harus menjadi pengembara ilmu, karena hal itu sudah menjadi kewajiban yang ditekankan dalam agama Islam, seperti dikutip oleh Imam Sakhawi dalam kitab Maqosid-nya, bahwa Nabi bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap orang Islam”

Pencari adalah sebuah pengembaraan, sedangkan pengembaraan adalah proses untuk menuju lebih baik. Dunia pendidikan pesantren sangatlah tepat untuk dijadikan lahan pengembara ilmu, karena pesantren masa kini khususnya Bata- Bata, sudah melangkah untuk mendorong santrinya agar maju dalam dunia internasional. Terlebih dunia pesantren masa kini bukan hanya kitab yang disuguhkan pada kaum santri namun pelajaran penunjang lainnya, seperti matematika, biologi, kimia dan fisika serta beraneka bahasa dan lain-lain juga disediakan, agar santri terbekali dengan keilmuan secara komplit.

Kata orang ilmu agama dan ilmu umum, kata ini seakan membedakan antara berbagai macam ilmu. Perlu dicatat dalam benak kita bahwa tidak ada perbedaan antara keduanya. Syaikh Muhammad Jibril pernah mengatakan “Semua ilmu di hadapan Allah adalah sama, tidak ada istilah ilmu umum dan ilmu agama”. Sebenarnya dalam faktanya memang tidak ada perbedaan dari keduanya, karena dalam Islam semua ilmu adalah ilmu agama. Belajar matematika kalau tujuannya untuk tahu menghitung zakat dan masalah faroid atau warisan, maka nilainya sama dengan belajar fiqh. Belajar kimia, olahraga dan biologi kalau untuk mengetahui cara mensyukuri kesehatan maka nilainya sama dengan belajar al-Qur’an surah al-Ghasyiyah. Belajar fisika untuk mengetahui ru’yah dan hisab, jelas sama belajar syarat-syarat wajib puasa.

Jadi, semua ilmu hanya berbeda nama saja. Dikotomi ilmu itu dalam sejarah muncul setelah digagas oleh Van Deer Plas untuk memecah belah muslimin Indonesia (Baca Sejarah Indonesia GBPP 1999). Dalam sejarah juga dijelaskan, betapa banyak cendikiawan muslim yang ahli dalam berbagai macam disiplin Ilmu, Al-Khawarizmi yang ahli matematika, Ibnu Sina dan Al-Zahrawi yang ahli kedokteran, Ibnu Khaldun yang ahli fisika astronomi, Ibnu Tulun yang ahli geografi, Abbas Ibnu Firnas yang ahli aerodinamika, Fatimah Al-Firhi yang ahli pendidikan, Al-Khaitam yang ahli fisika optik, Al-Jazari yang ahli otomasi, dan masih banyak lagi seperti Thariq Ibnu Ziyad, Zaid Ibn Tsabit, Quthaibah ibn Muslim, mereka adalah tokoh-tokoh besar dunia yang kualitas batin dan imannya jauh di atas level kita!. Beberapa hari kita sudah mempraktekkan ilmu kita di masyarakat, mari kita kembali ke pondok dengan berpegangan pada motto besar kita “Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya Dari Pada Kecerdasan”.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus tenaga pengajar di MA Mambaul Ulum Bata-Bata.