Guru Tugas Tidak Hanya Mengajar, Namun Juga Belajar

ADMINPESANTREN Sabtu, 28 Mei 2022 21:41 WIB
1525x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren

Bata-BataDua belas hari pasca santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (Ponpes Muba) kembali ke pesantren setelah libur panjang, Dewan Taudzifiyah Ponpes Muba menggelar acara pemberangkatan guru tugas (GT) masa khidmat 2022-2023, Sabtu pagi (28/05/22) yang berlokasi di mushalla putra.  

Pemberangkatan guru tugas merupakan program rutin tahunan Ponpes Muba yang dikoordinir langsung oleh Dewan Taudzifiyah. Santri lulusan Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Kejuruan diwajibkan mengikuti program ini dengan mengabdi ke berbagai daerah di seluruh Nusantara dalam periode minimal 1 tahun. Program semacam ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman nyata bagi santri dalam menempa hidup bermasyarakat di segala bidang, terutama berkenaan dengan pendidikan. Setelah masa pengabdian di tempat tugas selesai, barulah santri-santri tersebut dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurut wawancara tim redaksi kepada ustadz Abd. Latif Husni sebagai Ketua Asrama Kelas Akhir, jumlah guru tugas yang akan diberangkatkan tahun ini mencapai 395 orang. Jumlah ini merupakan nominal terbaik yang sudah diupayakan oleh jajaran asatidz Asrama Kelas Akhir dan Dewan Taudzifiyah dengan menyeleksi calon Guru Tugas dan ditempatkan di lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya. Sementara itu, bagi santri yang belum mendapatkan kesempatan ditugas tahun ini, tetap akan mendapatkan tugas pengabdian di internal Ponpes Muba sesuai dengan kebutuhan.

Pada acara pemberangkatan guru tugas kali ini, turut hadir Pengasuh Ponpes Muba, R.K.H. Moh. Faishol Abd. Hamid. Dalam kesempatan tersebut, beliau memberikan sambutan dan pesan-pesan kepada segenap guru tugas (GT) dan penanggung jawabnya (PJGT). Beliau berpesan agar senantiasa mengamalkan dawuh muassis Ponpes Muba, R.K.H. Abd. Majid bahwa “Kennengah kennengih, lakonah lakonih, insya Allah selamet” (Tempatilah apa yang seharusnya ditempati, kerjakanlah apa yang seharusnya dikerjakan, insya Allah menjadi orang yang selamat). Pesan ini beliau sampaikan dengan harapan agar GT maupun PJGT dapat memenuhi tanggung jawabnya masing-masing sesuai dengan peraturan yang telah disepakati bersama.

Beliau juga menuturkan bahwa santri yang akan ditugas bukan semata-mata hanya untuk mengajar, melainkan juga belajar bersosial dan hidup di tengah-tengah masyarakat. “Mengajar itu adalah bentuk implementasi dari apa yang telah diamanatkan kepada semua Penanggung Jawab Guru Tugas (red. PJGT). Saya harap kepada segenap PJGT agar tidak memanjakan guru tugas secara berlebihan, begitu pun tidak membebani guru tugas secara berlebihan. Mereka masih dalam tahapan belajar, sehingga perlu kiranya PJGT senantiasa memberikan arahan yang baik kepada Guru Tugas”, dauh beliau.

Setelah sambutan, Ustadz Khoiri Ahmad selaku Ketua Dewan Taudzifiyah menyampaikan terkait hak dan kewajiban Guru Tugas maupun Penanggung Jawabnya, yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan nama Penanggung Jawab Guru Tugas (PJGT), nama Guru Tugasnya, serta daerah asal tempat tugasnya.

Salah seorang Guru Tugas yang berhasil redaksi wawancarai sebelum berangkat menuju tempat tugasnya mengatakan bahwa berangkat tugas merupakan bentuk pengabdian dan taat santri kepada kiai setelah sekian lama menimba ilmu di pondok pesantren. “Sudah 6 tahun saya mondok disini (red. Ponpes Muba). Meski tidak banyak ilmu yang saya peroleh, setidaknya saya berkesempatan untuk memberikan dedikasi atau pengabdian sebaik mungkin. Meskipun, pengabdian saya tentu tidak akan sebanding dari apa yang sudah saya dapat dari Bata-Bata, tapi saya akan berusaha”, ucap guru tugas bernama Iwan Khalifi tersebut. (Jay/FN)