Harapanmu Setinggi Langit, Tapi Doamu Tidak Sampai Satu Menit

ADMINPESANTREN Jumat, 3 Juni 2022 07:05 WIB
283x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Unsiyatul Uyun*

Seseorang haruslah hidup dengan memiliki harapan. Harapan yang baru adalah warna hidup yang baru, begitu kiranya slogan yang sering diucapkan oleh pemain iklan. Jalan yang dibuat di atas harapan lebih menyenangkan daripada jalan yang dibuat di atas keputus asaan. Meski terkadang kita memiliki banyak harapan, tetapi kenyataan menuntut kita menyerah pada keadaan. Bukankah itu termasuk cepat sekali mendiagnosa diri tidak mampu atas segala hal yang terjadi?. Ketika kita diuji oleh Allah, itu karena Allah sudah meyakini bahwa kita akan sanggup dan mampu melewatinya, lalu mengapa kita masih ragu?.

Sering kali kita berkecil hati dengan mengatakan “Ya Allah, why me?” mengapa dalam semesta yang luas ini harus aku? Lalu Allah mendengar rintihan kita sambil jawab “Why not?”, Kenapa tidak?. Padahal jika kita mau sadari, sungguh bila kita merasa beban kita lebih berat daripada orang lain, itu karena Allah melihat kita lebih kuat dari mereka.

Menyelam dalam lautan fakta memang susah, maka dari itu kita butuh pelampung agar tidak tenggelam dalam fakta itu sendiri. Maka gunakanlah pelampung terbaik yang kita miliki yakni ibadah dan doa. Doa merupakan interaksi antara hamba dengan Tuhannya. Sama halnya dengan komunikasi sebagai proses interaksi yang menghubungkan komunikan dengan komunikator, dan dalam doa merupakan aktivitas komunikasi transendental.

Doa adalah hal mudah dan sederhana tapi luar biasa berkahnya. Allah dengan Maha Penyayang-Nya berkuasa mengabulkan doa-doa setiap hamba-Nya. Sehingga, bukan karena doa itu tidak dikabulkan, namun permohonan ini tidak sampai karena ada sekat yang menutup. Itulah dosa atau maksiat. Semakin pekat dosanya, semakin kuat penghalangnya, maka semakin sulit rahmat Allah yang turun kepada kita. Naudzubillah.

Berdoalah yang baik, ikhlas dan yakin bahwa Allah mendengarkan semua yang kita keluh kesahkan. Berdoalah dengan tenang, tidak grasak grusuk, tidak terburu- buru, tidak mendikte. Sesungguhnya segala sesuatu di dunia ini akan pergi dan tidak akan kembali kecuali doa. Dia pergi kepada Allah dan dia akan kembali pada yang meminta.

Orang yang merasa doanya tidak dikabulkan oleh Allah, dia sudah suudzon terhadap Allah.  Tidak ada doa yang tidak dikabulkan oleh Allah. Pertama, ada yang doa yang sifatnya cash atau langsung, kedua, ada yang ditunda oleh Allah karena penerimanya belum layak atau belum siap. Ibarat seorang anak kecil di bawah umur meminta pisau, apakah orang tuanya akan memberikannya? Tentu tidak, karena hal itu dapat melukainya. Sama seperti doa, segala doa- doa kita sudah ditampung dan tidak ketinggalan satu kata pun. Kita hanya perlu berdoa-berdoa dan menunggu waktu Allah mengabulkannya. Ada pula doa yang kelak akan dikabulkan dengan nikmat surga beserta segala isinya.

Beberapa orang ingin hidup dengan instan dan tidak sabar. Ingin doanya segera dikabulkan, padahal sajadah yang digelar belum saja dilipat rapi. Ingin langsung menjadi kaya, padahal usaha masih baru proses niat rancangannya saja. Tidakkah kita merasa malu, panggilan Allah sering datang terlambat, tapi dalam permohonan kita ingin dijawab cepat? Padahal kita sendiri tahu, dalam kodrat manusia semua hal butuh proses. Teruslah berdoa tanpa henti, perkara diterima atau tidak adalah semata urusan Allah. Karena doa adalah senjata orang mukmin paling tajam melebihi senjata apapun yang dimiliki seseorang. Berdoalah sekarang, tidak ada ruginya meski dikabulkan satu tahun kemudian. 

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Saat ini aktif menjabat sebagai Kaderisasi Puteri IMABA dan mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.