Transaksi Online Shop; Utamakan Sisi Kemanusiaan

ADMINPESANTREN Selasa, 7 Juni 2022 06:36 WIB
256x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Tanzali Indah*

Hidup dalam derasnya perputaran zaman seiring dengan tingginya gejolak teknologi 4.0 yang kini mulai memasuki 5.0, rasanya umat manusia dituntut untuk lebih survive agar tak tercipta gap technology antara bumi bagian barat dan timur. Kita juga tak boleh menafikan bahwa teknologi dan komunikasi merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan satu sama lain. Di sisi lain kita sebagai homo communication juga tak akan terlepas dari kedua hal tadi. Karena komunikasi merupakan salah satu penghubung antar manusia, dan salah satu alat komunikasi yang sangat populer dan terjangkau adalah handphone.

Di dalam handphone banyak sekali aplikasi yang dapat kita temui, bukan hanya untuk berkomunikasi dan bermain game saja, akan tetapi juga untuk transaksi jual-beli atau yang biasa dikenal dengan jual beli online. Dengan ini kita bisa membeli sesuatu yang diinginkan walaupun berada di tempat yang jauh, seperti halnya membeli barang dari luar negeri. Dalam hitung-hitungan ekonomis, belanja online dapat menghemat isi kantong. Belanja online juga bermanfaat bagi orang-orang sibuk, seperti ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anaknya, bahkan para pelajar atau mahasiswa yang disibukkan dengan tugas-tugasnya.

Hidup di era modern sebagai generasi gadget tidak mungkin jika tidak mengetahui aplikasi online shop. Menurut syariat Islam jual beli online hukumnya sah karena menjual barang yang telah dijelaskan kriterianya serta berada dalam bentuk tanggungan (salam). Berkenaan dengan online shop, banyak orang-orang khawatir menjadi korban penipuan ketika berbelanja secara online. Lantas bagaimana agar kita tidak terjerumus oleh penipuan tersebut? Maka dari itu, kita dituntut menjadi pembeli yang cerdas dalam memilih barang sesuai keinginan kita. Kualitas barang perlu diperhatikan dengan seksama sembari melihat review barang sekaligus toko yang menjualnya.

Sayangnya banyak sekali pelaku jual-beli online cenderung terjerumus dalam jurang penipuan. Kebanyakan dari mereka terlalu mengabaikan aspek-aspek penting dan terlena akan gambar dan harganya yang murah. Mereka cenderung tidak mengobservasi terlebih dahulu terhadap kredibilitas penjual atau toko online tersebut. Mulai dari intensitas penjualan, penilaian (testimoni) dari para pembeli, hingga bentuk verifikasi toko yang biasanya diberikan marketplace terhadap penjual terpercaya. Biasanya, untuk menarik minat pembeli, kebanyakan penipu cenderung mematok harga yang lebih murah daripada harga pasarannya. Di sisi lain mereka juga sering bersiasat dengan metode diskon besar-besaran untuk mengelabui pembeli.

Di samping itu, jika selagi masih bisa melakukan pembayaran di tempat (Cash on Delivery), maka itu lebih baik daripada pembayaran digital. Karena dengannya kita bisa lebih leluasa melihat kualitas dari barang yang akan dibeli sebelum melakukan pembayaran. Nah, teruntuk mereka yang sudah terlanjur masuk dalam perangkap penipuan, setidaknya jangan hanya diam dan melanggengkan penjual tersebut di marketplace. Namun memaksimalkan fitur penilaian dengan memberi nilai “tidak memuaskan” serta melaporkan pada pihak berwajib agar tidak lagi terulang kasus penipuan yang serupa.

Di lain pihak, sebagai penjual online shop yang telah diberi amanah oleh marketplace dan dipercaya oleh costumer, seharusnya bisa menjaga dan mengemban amanahnya dengan baik. Menjadi penjual online jangan hanya memikirkan keuntungan yang akan diraihnya. Akan tetapi juga harus memikirkan tentang kepuasan pelanggan, karena apabila kita sudah memuasakan pelanggan, maka pelanggan akan percaya sepenuhnya pada kita. Jadilah pribadi yang jujur dan tidak pernah sesekali berpikir untuk membohongi pelanggan. Sebab kebiasaan belum tentu baik, namun kebaikanlah yang justru perlu dibiasakan.

Sebagai manusia pun kita harus berperilaku baik kepada sesama. Manusia diciptakan dari tanah liat kering yang diberi bentuk dan kemudian oleh Allah ditiupkan ruh. Allah menyuruh malaikat untuk tunduk dengan bersujud bersama kepada manusia (Q.S. Al- Hijr 28-30). Sehingga, secara fitrah manusia adalah makhluk yang mulia. Meski sekarang manusia banyak yang mengabaikan kodratnya sehingga melakukan berbagai pelanggaran syariat, seperti halnya penipuan. Padahal agama Islam telah mengajarkan untuk tidak melakukan tindakan mudharat yang berarti merugikan orang lain. Wallahu a’lam bis shawab.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Saat ini duduk di kelas 11 IPA 1 MA Mambaul Ulum Bata-Bata 1.