Integritas Pemuda Berbasis Qur’ani Sebagai Warisan Baik Bagi Bangsa

ADMINPESANTREN Jumat, 24 Juni 2022 08:29 WIB
262x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Moh. Ali Wafi*

Kehidupan sebuah bangsa yang berkualitas masa depannya, tidaklah sebatas dipandang dari gejolak kemilau materi dan kekayaannya. Namun dilihat dari integritas, pribadi, serta pola pikir para generasi muda sebagai “generasi emas-nya”. Maka, sungguh sangatlah disayangkan jika sebuah negeri terasa hambar bahkan pahit tanpa para pemuda sebagai tonggak sekaligus pemain inti dalam bangsa itu sendiri, seperti kata pepatah, “Bangsa menjadik budak tanpa hadirnya seorang pemuda di dalamnya.”

Pemuda Sebagai Generasi Emas

Ketika ditelisik lebih jauh pada pembahasan, sebenarnya pemuda sebagai generasi emas merupakan sebuah istilah menuju pada tahapan-tahapan masa kehidupan seseorang yang berada di antara usia remaja dan tua. Mereka (generasi muda) sudah meninggalkan masa remajanya namun secara universal (umum) bisa dikatakan bahwa generasi muda adalah mereka yang telah berusia di atas 20 tahun dan di bawah 40 tahun.

Hingga pada yang demikian itu, generasi muda sering tampil dalam sebuah simbol atau ciri-ciri fisik dan psikis yang khas (khusus). Secara fisik, ia tampil dengan bentuk ataupun konsep tubuh, panca indra, yang sempurna pertumbuhannya. Tingginya postur badan dan semua anggota tubuhnya terlihat segar nan bersemangat. Adapun dari segi psikis para pemuda yang dikatakan generasi emas, tampil dengan jiwa serta raga yang semangat menggebu-gebu, penuh dengan idealisme, ambiguitas tinggi, dan segala hal yang diinginkannya segera terwujud, semuanya ingin cepat terealisasikan  dan seterusnya. Akhirnya dalam keadaan seperti itu, generasi muda sangatlah amat sering unjuk kompetensi, dengan dinamika dalam menegakkan dan membela sebuah cita, harapan, keinginan serta cita-cita bangsa dan negeri. Kendati demikian, gerakan sosial, orasi, protes, kritik keras nan pedas, demonstrasi serta yang lainnya sering dijunjung bersama oleh mereka para (generasi muda).

Seiring dengan fakta kongkrit tadi, Islam sebagai agama sangatlah menaruh serta meletakkan apresiasi sekaligus perhatian besar terhadap pembinaan generasi muda. Pembinaan untuk selalu menerapkan Al-Qur’an dalam diri mereka masing-masing. Pembinaan agar mereka dicetak sebagai pemain inti juga tonggak utama bangsa ini. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallama bersabda:

اُوْصِيْكُمْ بِالشَّبَابِ خَيْرًا فَاِنَّهُمْ اَرَفُّ اَفْئِدَةً اِنَّ اللهَ بَعَثَنِيْ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا فَخَالَفَنِيْ الشُّيُوْخُ ثُمَّ تَلَا قَوْلَهُ تَعَالَى فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ.

Aku wasiat-amanatkan kepadamu terhadap pemuda-pemuda (angkatan muda) supaya bersikap baik terhadap mereka. Sesungguhnya hati dan jiwa mereka sangat halus. Maka, sesungguhnya Tuhan mengutus aku membawa berita gembira dan membawa peringatan. Angkatan muda-lah yang menyambut dan menyokong aku, sedangkan angkatan tua menentang dan memusuhi aku. Lalu Nabi (Muhammad) membaca ayat Allah yang berbunyi: “Maka sunggah terlalu lama waktu (hidup) yang mereka lewati, sehingga hati mereka menjadi beku dan kasar”.

Hadis ini, sebagaimana dikutip oleh Zainal Abidin Ahmad dalam bukunya –Bunga Rampai Ajaran Islam-. Hadis tersebut paling tidak mengisyaratkan dua point penting. Pertama, peringatan kepada semuanya agar berbuat baik dan menghargai terhadap mereka (generasi muda). Karena merekalah yang akan memegang zaman yang akan datang, mereka yang akan membangun bangsa dan negara ke depan. Kedua, pengakuan bahwa (mereka) para pemuda memiliki hak partisipasi serta kapabilitas membentuk zaman sekarang dan yang akan datang.

Pemuda Berbasis Al-Qur’an dan Kemanusiaan (Sosial)

Menuju bangsa yang beradab lagi terhormat, kita harus melihat potensi dari pemudanya. Bukan karena selainnya (pemuda) tidaklah urgen. Namun kunci penting dalam melihat sekaligus menilai bangsa itu beradab atau tidaknya, punya dedikasi tinggi atau tidaknya, bisa kita lihat dari karakter dan potensi pemudanya. Sebab merekalah generasi emasnya.

Pemuda-pemuda (Muslim) sebagai tonggak pembangun bangsa seharusnya dibekali dengan pemahaman yang amatlah matang serta lebih dari cukup dalam ranah Al-Qur’an sebagai dasar bahkan asas dalam terwujudnya asa, harapan, masa depan, bahkan cita-cita dari bangsa itu sendiri. Malah lebih dari itu, mereka (seharusnya) bahkan telah dipupuk untuk menjadi pemuda yang berjiwa sekaligus berkarakter Qur’ani, memang betul-betul merealisasikan segala bentuk isi Al-Qur’an, mengejewantahkannya dalam segenap aktivitas kebaikan.

Sejarah serta Al-Qur’an mencatat, bahwa Nabi Ibrahim pada saat beliau tampil melawan segala patung berhala (milik raja Namrud) adalah saat beliau masih muda. Demikian pula orang-orang yang percaya terhadap Tuhan yang menciptakan alam semesta, menyelamatkan imannya dari raja –yang mengaku tuhan di zamannya- dengan masuk ke dalam gua, sampai akhirnya tertidur selama lebih dari tiga ratus (300) tahun adalah mereka para pemuda yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai ash-habul kahfi (para pemilik gua). Demikian pula Nabi Khidir yang menasihati Nabi Musa di dalam perjalanannya, beliau (Waliyullah Khidir) adalah seorang pemuda.

Selanjutnya, saat Rasulullah masih di kota Mekah, upaya berani yang dilakukan serta diterapkan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib Karroma Allahu Wajha untuk mengambil inisiatif serta partisipasi membela agama Islam di samping Nabi Muhammad – ShallaLlahu ‘Alaihi Wasallama - yang diikuti oleh pemuda-pemuda Quraisy lainnya. Mereka bahkan dengan jelasnya, selama 3 sampai 4 tahun sewaktu Islam masih disyiarkan, disebarkan secara sembunyi-sembunyi, tidak kurang dari 40 pemuda serta 10 pemudi yang bersaksi menjadi muslim dan muslimah. Segala pahit dan getirnya perjuangan mereka terima dengan sabar dan tabah, dan darah pemuda/i yang mengalir dalam tubuh, mereka memaksa maju ke depan tampil di medan perang.

Beda lagi setelah beberapa tahun dari itu, suatu hal yang sangat mengagumkan bagi semua sahabat, ialah pada waktu beliau (Nabi Muhammad ShallaLlahu ‘Alaihi Wasallama) mengangkat seorang sahabat untuk menjadi panglima perang memimpin perang ke daerah Romawi, ternyata adalah seorang anak muda yang baru berusia 17 tahun yang bernama Usamah bin Zaid. Sedangkan prajurit yang berada di bawahnya adalah para sahabat (kaum tua), seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib serta yang lainnya.

Untuk mencetak generasi emas yang unggul, hingga akhirnya mereka bisa memaksimalkan potensi serta masa depan dari bangsa dan negara ini, marilah kita merujuk terhadap Al-Qur’an, surah luqman ayat 13-16 yang berbunyi sebagi berikut:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16)

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku suatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka kuberitahu kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata) : “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) sebesar biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha mengetahui.”

Setidaknya ada tiga poin dasar untuk mengambil hikmah dari empat ayat di atas. Pertama, poin pendidik yang dalam hal ini adalah keluarga (orang tua.) Kedua, poin anak didik (generasi). Ketiga, poin tentang lingkungan. Sebagaimana menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, dalam tafsirnya yang berjudul –tafsir al—Maraghi-, jilid 2.

Dari ketiga-tiganya, kita dapat mengambil sebuah petunjuk tentang cara mencetak mereka untuk dijadikan sebagai calon generasi muda penyosong bangsa. Nah, untuk menghasilkan generasi pemuda berbasis Qur’ani, para orang tua harus mengasih, mengasuh lagi mengasah kemampuan anak-anaknya agar mereka menjadi pemuda yang sehat fisiknya, indah akhlaknya, dalam ilmunya, luas pemikirannya, mempunyai keterampilan ataupun akhlak yang membumi juga berakidah dengan iman yang kokoh. Hingga akhirnya mereka mudah dalam mendukung akan berlangsungnya pembangunan negeri dan bangsa ini supaya lebih maju, agar dengan spirit Al-Qur’an negeri kita bisa memaksimalkan kinerja serta anugerah generasi emasnya. Namun mereka (para anak didik) juga harus menaruh hormat kepada mereka para orang tua, para pendahulu, khususnya kepada ibu-bapaknya (orang tuanya). Seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah ShallaLlahu ‘Alaihi Wasallama:

“Tidaklah seorang pemuda memuliakan orang tua karena usianya, melainkan Allah akan menyiapkan untuknya orang yang akan memuliakannya pada waktu ia telah tua” HR. At-Tirmizi. Wallahu a’lam bishshowab.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, saat ini aktif menempuh pendidikan strata satu di Institut Agama Islam Negeri Madura Pamekasan.