Banjir Keberkahan di Kota Tarim

ADMINPESANTREN Selasa, 21 Februari 2023 06:36 WIB
97x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh: Ach. Rofiki Tanzil*

Kota Tarim biasa disebut dengan ‘Kota Seribu Wali’. Julukan tersebut yang mungkin menjadi penggerak dan penyemangat bagi orang-orang yang haus akan keilmuan dan orientasinya ialah akhirat. Termasuk pula mereka yang bertujuan berziarah ke makam para wali sekadar ngalab berkah.

Magnet kota Tarim sangatlah besar. Sebab yang datang ke Tarim bukan hanya dari kalangan pelajar atau peziarah. Tetapi, para turis dari mancanegara pun hampir setiap harinya juga berkunjung ke kota Tarim hanya karena ingin melihat bangunan-bangunan atau melakukan riset.

Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad pengarang Ratib al-Haddad mengatakan, “Andai saja engkau mengeluarkan semua harta yang kau miliki untuk berkunjung ke Tarim, niscaya apa yang didapatkan akan jauh lebih besar dari apa yang telah kau keluarkan.”

Hal ini menandakan keagungan dan kesucian kota Tarim yang membawa kedamaian, ketenangan, dan kesederhanaan bagi yang tinggal atau yang hanya berkunjung. Hal itu didasari karena kota ini bersih dari hiruk pikuk urusan duniawi.

Berkah Doa Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq

Setelah wafatnya Rasulullah Saw., maka Sayyidina Abu Bakar ra. yang kemudian dibaiat oleh umat Islam sebagai khalifah Rasulullah Saw. Pada saat itu, ada seorang gubernur yang bernama Ziyad bin Lubaid al-Anshari mengajak umat Islam yang ada di bawah kekuasaannya untuk ikut serta membaiat Sayyidina Abu Bakar sebagai khalifah. Maka penduduk Tarimlah yang pertama kali sepakat dan mendukung ajakan gubernur. Hingga tersiar ke telinga Sayyidina Abu Bakar tentang antusiasme para penduduk Tarim yang dengan cepat mengakui kekhalifahannya.

Lantas Beliau pun mendoakan penduduk Tarim dengan tiga doa. Pertama, semoga Allah SWT menjadikan kota Tarim makmur. Kedua, semoga airnya melimpah dan berkah. Ketiga, semoga kota Tarim dipenuhi dengan orang-orang sholeh.

Bahkan Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Ba’abad berkata: “Bahwa Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq ra. akan memberikan syafa’at kepada para penduduk kota Tarim secara khusus.”

Kota Sejuta Wali

Kota seribu wali begitulah orang mengenalnya. Namun sesungguhnya bukan hanya seribu wali. Dari dulu sampai sekarang kalau dihitung akan lebih dari sekadar seribu wali. Sebab beberapa abad yang lalu al-Habib Abdurrahman as-Seggaf sudah pernah mengatakan: “Lebih dari sepuluh ribu auliyā’ al-akbar dan delapan puluh wali quṭub dimakamkan di pemakaman Zanbal.” Lantas, bagaimana kalau dijumlah dengan para wali sekarang? Baik yang sudah wafat baru-baru ini atau yang masih hidup, yang masyhūr atau yang mastūr (menutupi kewaliannya). Wali yang mastūr saja sampai sekarang, seperti pernyataan Habib Hasan as-Syathiri ada 300 wali mastūr yang berada di pasar Kota Tarim. Pasar yang disebut-sebut sebagai tempat terburuk. Lalu bagaimana pula di tempat yang paling suci (masjid-masjidnya)?.

Imam Yafi’i Abdullah bin As’ad al-Yafi’i menyusun satu kitab yang menyebutkan wali-wali Allah di seluruh dunia. Tapi wali-wali yang ada di Hadramaut beliau tidak menyebutkan. Padahal provinsi beliau bertetangga dengan Hadramaut. Ketika ditanya alasannya, Beliau menjawab, “Kalau saya sebut wali di Hadramaut, tidak akan rampung kitab ini.

Diceritakan bahwa beliau pernah berziarah ke Tarim dan mendapat sambutan luar biasa dari penduduknya. Selama di Tarim beliau menemukan banyak wali-wali besar yang ada di barat dan di timur. Maka dengan sebab banyaknya wali-wali Allah di kota Tarim, meskipun cuacanya sangat panas, kota Tarim bisa disulap menjadi kota yang tenang, sejuk, dan mengalir keberkahan-keberkahannya.

Dihuni Para Keturunan Rasulullah

Kota Tarim juga menjadi pusatnya para habaib, terutama dari kalangan Sadah Baalawi. Para Ahlul Bait hijrah ke kota Tarim karena bertujuan untuk menyelamatkan akidah Islam yang berlandaskan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dalam kitab al-Ghurar karangan Syeikh Muhammad bin Ali al-Khirid disebutkan, bahwa keluarga Baalawi berpindah dari Desa Bait Jubair ke kota Tarim sekitar tahun 521 H.

Orang yang pertama kali dari keluarga Baalawi yang hijrah ke kota tarim adalah Syeikh Ali Khali’ Qasam, saudaranya Syeikh Salim, yang kemudian disusul oleh keluarga pamannya, yaitu Bani Jadid dan Bani Basri. Maka dengan berkah darah daging Rasulullah saw ini kota Tarim sampai sekarang dikenal dengan kota budaya dan ilmu.

Namun sebagian dari meraka tidak hanya menetap di Tarim, ada sebagian dari mereka yang bertebaran ke berbagai penjuru dunia untuk mengemban tugas suci Rasulullah, yaitu menyebarkan agama Islam. Salah satu contohnya adalah para penyebar Islam di Indonesia yang dikenal dengan Wali Songo.

Kota Penghafal al-Qur’an

Dari dulu kota Tarim memang terkenal sebagai surga pagi para penghafal al-Qur’an. Biografi ulamanya saja yang diceritakan dalam kitab al-Masyra’ al-Rawī pasti diawali dengan wulida fī Tarīm wa hafiẓa al-Qur’ān al-Karīm (dilahirkan dan menghafal al-Qur’an di Tarim).

Anak-anak kecil pun diwajibkan menghafal al-Qur’an di Qubbah Abū Murayyim (tempat menghafal al-Qur’an yang cukup legendaris) atau di cabang-cabangnya, yakni masjid-masjid yang tersebar di kota Tarim. Selain itu, di Tarim para penghafal al-Qur’an mudah dijumpai di berbagai tempat. Mereka para sopir taksi, tukang kayu, tukang jual baju, sampai penjaga toko adalah penghafal al-Qur’an.

Seperti yang diceritakan Habib Umar bin Hafidz, “Di Tarim pernah ada seorang ummi (tidak bisa baca tulis) yang hafal al-Qur’an karena dia rajin hadir di masjid as-Seggaf untuk mendengarkan hizb para penghafal al-Qur’an.”

Hal yang menarik adalah Tarim pernah mempunyai Habib Muhammad bin Hasan Jamalullail. Beliau tidak pernah membaca al-Qur’an ketika berpuasa. Sebab ketika membaca al-Qur’an, dari saking nikmatnya, beliau seakan merasakan rasa madu di mulutnya. Karena takut kurang sah, maka beliau pun hanya membaca al-Qur’an di malam hari. Tarim mempunyai dua tempat yang disinyalir dapat memberikan futūh dalam menghafal al-Qur’an, yaitu menghafal al-Qur’an di Qubbah Abū Muroyyim atau mengikuti Hizb al-Qur’an di masjid as-Seggaf.

Wanita-Wanita Tarim yang Suci

Sesuai dengan penuturan Habib Umar bin Hafidz, bahwa wanita-wanita Tarim selalu melatih anak-anaknya mulai sejak kecil dengan zikir dan shalawat. Baik ketika sedang menyusui atau memasak. Maka tidaklah heran jikalau anak-anak mereka nantinya menjadi wali dan alim ulama. Hal ini sangat berbeda dengan realita yang terjadi di zaman sekarang, dimana kebanyakan para wanitanya ketika menggendong atau menyusui anak, sambil menonton sinetron dan hal-hal lain yang tidak berfaidah.

Ramadhan Penuh Berkah di Kota Tarim

Habib Ali Masyhur, kakak dari pada Habib Umar pernah berkata: “Dahulu para orang tua di Tarim selalu menangis ketika tiba di penghujung bulan Ramadhan, mereka sangat sedih karena sebentar lagi Ramadhan akan meninggalkan mereka.”

Ramadhan di Tarim penuh dengan ibadah. Bagaimana tidak, di sana malam serasa siang. Setelah buka puasa, mereka salat Maghrib, kemudian dilanjutkan dengan salat Ba’diyah dan salat Tasbih empat rakaat setelahnya. Lalu makan malam dan istirahat sejenak menunggu azan Isya’ dan salat Tarawih.

Dalam pelaksanaan salat Tarawih, bagi sebagian orang di sana, setiap setengah jam, salat Tarawih dilaksanakan dengan cara berpindah-pindah masjid hingga berakhir ketika memasuki waktu sahur. Apalagi pada 10 hari terakhir Ramadhan, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Sehingga bisa saja ada sebagian orang dari mereka yang melakukan salat Tarawih sampai seratus rakaat.

Setelah sahur, ada sebagian masjid yang mengadakan witir berjamaah lagi dengan delapan rakaat. Sehingga witir mereka lengkap menjadi sebelas rakaat. Kemudian membaca wirid-wirid akhir malam sambil menunggu azan Subuh.

Setelah melaksanakan salat Subuh, lorong-lorong Tarim dipenuhi dengan kendaraan-kendaraan yang menuju satu tempat tujuan, yaitu Darul Musthofa. Mereka bertujuan menghadiri pengajian tafsir yang dipangku Habib Umar bin Hafidz. Sehingga Musholla Ahlul Kisa (Musholla pesantren Habib Umar) dipenuhi dengan jamaah di setiap Subuh Ramadhan. Para kaum Hawa pun tidak ketinggalan. Meskipun mereka tidak bisa hadir, namun mereka juga mendengarkan melalui AlertnabawiTV atau Radio Nurul Iman. Pengajian itu berakhir ketika terbitnya matahari. Mereka pun beristirahat sampai waktu Duhur.

Selanjutnya, kegiatan mereka setelah melaksanakan salat Duhur, yaitu membaca al-Qur’an, baik secara berjamaah atau perorangan. Setelah Asar mereka ngabuburit, namun ngabuburit-nya dengan menghadiri majelis ilmu yang ada di masjid-masjid Tarim.

Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan mereka menghatamkan al-Qur’an dalam salat Tarawih di setiap masjid kota Tarim yang jamaahnya membeludak sampai ke lorong-lorong jalan. Dengan perincian tanggal 25 Ramadhan di Masjid as-Seggaf, 27 Ramadhan di Masjid Baalawi, 29 Ramadhan di Masjid al-Muhdlar.

Berkah Belajar di Kota Tarim

Tempat dan pengajar menjadi pendukung keberkahan bagi para pencari ilmu di kota Tarim. Banyak ulama-ulama besar dunia merupakan produk pesantren-pesantren Tarim. Keberkahan itu muncul dari mereka para masyayikh yang sangat ikhlas dan sabar dalam mengajar, seperti sosok guru agung di Rubath Tarim al-Habib Abdullah bin Umar as-Syathiri yang telah mencetak 13.000 ulama yang telah mengajar di berbagai daerah dan menjadi dai di jalan Allah SWT.

Para pelajar di sana juga tidak hanya diajari ilmu zahir saja, tapi mereka diharuskan untuk memperhatikan batinnya, yakni dengan meneladani akhlak dan perilaku yang dicontohkan Rasulullah Saw, Ahlul Bait, sahabat, dan salaf al-shalih. Hal inilah yang diamanatkan Habib Umar bin Hafidz kepada santri-santrinya.

* Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, aktif sebagai pengurus Kelompok Literasi Siswa Kreatif (KLASIK) MA Mambaul Ulum Bata-Bata.