Yang Penting Justru Akhlak

ADMINPESANTREN Selasa, 5 September 2023 14:39 WIB
1014x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh: Faizal Amin*

"Kesopanan lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan."

Kutipan di atas merupakan motto Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, yang tampak jelas sangat mengutamakan akhlak dibandingkan kecerdasaan. Meski demikian, bukan berarti kecerdasan tidak utama. Namun, adab atau akhlak lebih penting dibanding kecerdasan/kepintaran, tetapi minim tata krama.

Ada sebuah cerita yang mengisahkan seorang pelajar yang sangat cerdas, ia selalu mendapatkan nilai A (perfect). Dalam suatu waktu ada salah satu guru yang memberi nilai dia dengan A- (baik), sehingga ia marah dan merasa gurunya salah dalam memberi nilai, karena menurutnya jawaban yang ia berikan saat ujian benar dan tak ada yang salah. Pelajar ini pun pulang mengambil senjata lalu kembali ke kelas dan membunuh gurunya. Gambaran ini merupakan bukti bahwa kesopanan memang lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan.

Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda:

 اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

 

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaullah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.‘” (HR. Ahmad 21354).

Dalam sebuah hadits juga disebutkan:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” (HR. Ahmad).

Adab atau kesopanan yang dimaksud sebenarnya bukan hanya terhadap sesama manusia, namun lebih umum dari itu. Baik adab kepada Tuhan, adab kepada Rasulullah Saw., adab kepada para masyaikh, para ulama, keluarga, sahabat, anak, istri dan adab dengan semua makhluk Allah Swt. harus senantiasa diperhatikan dan dikedepankan. Hal ini telah dicontohkan oleh pengasuh ketiga Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, RKH. Ahmad Mahfudz Zayyadi. Beliau senantiasa mengedepankan adab, baik kepada Tuhan, kepada sesama manusia dan bahkan kepada hewan sekalipun.

Mulianya Akhlak RKH. Ahmad Mahfudz Zayyadi

RKH. Ahmad Mahfudz Zayyadi, selian dikenal dengan kealiman dan keistikamamahannya, beliau juga dikenal dengan akhlaknya yang begitu mulia. Dikisahkan bahwa RKH. Ach. Mahfudz Zayyadi setiap bepergian selalu meminta sopirnya untuk pelan-pelan, karena khawatir debu dari kendaraan yang beliau naiki mengenai orang-orang yang berada di pinggir jalan. Seperti yang sering dialami, saat dalam perjalanan ada sebuah kendaraan yang ngebut dan menyisakan debu-debu berhamburan, hal itu sangat mengganggu orang-orang yang di pinggir jalan.

Selain itu, beliau juga sering menyapa orang-orang yang ada di sekitar jalan, bahkan jikalau orang itu jauh beliau biasanya menyapa dengan melambaikan tangan. Begitulah akhlak beliau ketika berinteraksi dengan sesama manusia, penuh kehati-hatian, kesopanan dan tidak pernah memandang kasta. Karena memang sejatinya manusia di hadapan Allah Swt. itu sama, hanya ketakwaan yang menjadi pembeda diantara mereka. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).

Nabi Muhammad Saw. juga bersabda:

لَيْسَ لأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلاَّ بِالدِّيْنِ أَوْ عَمَلٍ صَالِحٍ. (رواه البيهقي).

“Tidaklah seseorang mempunyai keutamaan atas orang lain, kecuali karena diinnya atau amal shalih.” (HR. Baihaqi)

Sikap sopan dan penuh kehati-hatian juga beliau lakukan bukan hanya kepada manusia. Bahkan terhadap hewan pun beliau juga berlaku sopan. Seperti yang dikisahkan sopir pribadi beliau (Ali), ketika suasana musim hujan dan kebetulan kendaran beliau melewati persawahan yang terdapat banyak katak yang berlompatan di jalan, beliau biasanya meminta untuk berhenti dan menunggu hingga katak-katak yang menghalangi jalan tersebut berkurang atau tidak ada, karena khawatir roda kendaraan beliau melindasnya.[1]

Hal serupa juga pernah dilakukan Alm. RKH. Thohir Abd. Hamid, ketika para abdi dalemnya membersihkan halaman mandhepah (sejenis langgar, biasa ditempati pengasuh menirma tamu). Beliau berpesan kepada para abdi untuk membersihkannya, tetapi jangan sampai membunuh semut yang ada di sana.[2] Hal semacam di atas mungkin menjadi aneh bagi sebagian orang, sebab, aturan semacam itu akan membuat perkerjaan lebih lama karena harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Namun, minimal hal tersebut menjadi contoh, bahwa kepada hewan sekalipun ada akhlak atau tata krama yang harus dijaga.

Hal ini selaras dengan perkataan Fudhail bin Iyadh (726 M-803 M), salah seorang guru Imam As-Syafi’i:

قال الفضيل لو أن العبد أحسن الإحسان كله وكان له دجاجة أساء إليها لم يكن من المحسنين

“Fudhail bin Iyad berkata, ‘Seandainya seorang hamba melakukan semua jenis kebaikan, tetapi ayam peliharaannya teraniaya karenanya, niscaya ia belum dapat digolongkan dalam derajat muhsin (tingkat tertinggi spiritual) atau orang baik.’” [3]

*Alumni MA C Mambaul Ulum Bata-Bata tahun 2019.

[1] Atiq Chanel, 11 September 2021, https://youtu.be/VLYslhkRYlA (diakses pada 28/07/23).

[2] Diceritkan oleh Ustadz Wahyudi Efendi (abdi dalem RKH. Thohir Zain) pada 28/02/23.

[3] Syekh M. Nawawi, Tsimarul Yani‘ah fir Riyadhil Badi‘ah, (Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: [tanpa tahun], halaman 91).