‘New Normal’ Di Depan Mata?

ADMINPESANTREN Jumat, 5 Juni 2020 06:21 WIB
2987x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni New Normal

Oleh : Masluhah Jusli

Periode tahun 1750 – 1850 dikenal sebagai tahun terjadinya revolusi industri besar-besaran di Inggris yang berdampak mendalam pada tatanan sosial, lingkungan, ekonomi, dan budaya dunia. Ada satu jenis kupu-kupu yang berevolusi sebagai produk dari pekatnya polusi udara pada periode tersebut. Jenis Kupu-Kupu Biston Bitularia bersayap gelap yang lebih adaptif dibandingkan dengan yang bersayap cerah, sehingga kupu-kupu yang bersayap cerah lebih mudah dimangsa oleh predator. Meskipun sebelum terjadinya revolusi industri populasi kupu-kupu bersayap cerah lebih banyak, tetapi dengan berubahnya habitat kupu-kupu menjadi gelap akibat asap pabrik, maka kupu-kupu bersayap gelap lah yang mampu beradaptasi dan bertahan hidup.

Mekanisme bertahan hidup dengan seleksi alam seperti ini juga pernah diungkap oleh Carl Sagan dalam bukunya yang bertajuk, ‘Cosmos’. Dimana kepiting Heike yakni kepiting berwajah samurai yang dianggap sebagai reinkarnasi samurai dari klan Heike yang dalam mitos masyarakat Jepang dipercaya bahwa kepiting tersebut tidak boleh ditangkap. Sehingga seiring perkembangannya, kepiting jenis ini memiliki populasi yang tidak lagi sedikit, dan tidak menutup kemungkinan jika kepiting jenis lain juga melakukan evolusi atas seleksi alam yang terjadi. Tujuannya tidak lain, yakni untuk bertahan hidup.

Naluri alamiah bertahan hidup dan berkembang biak merupakan hal mendasar bagi makhluk hidup. Pertarungan hidup dan mati, siapa yang akan mengalami kepunahan atau terus melanjutkan keturunan. Bagi kupu-kupu Biston Bitularia ataupun Kepiting Heike, proses evolusi seperti itu adalah bagian dari naluri bertahan hidup dan berkembang biak. Boleh dibilang, kita sebagai manusia juga melakukan jenis evolusi yang sama. Saya melihat sudah sejak awal pandemi Covid19 ini mengepung dunia, masyarakat mulai berbondong-bondong membeli bahan makanan maupun kebutuhan pokok lain sehingga persediaan di super market pun ludes bahkan ada sebuah postingan yang memperlihatkan potret rak super market yang kosong, stok masker dan handsanitizer yang menjadi barang langka. Panic buying seperti itu juga merupakan satu bentuk naluri bertahan hidup.

Sudah sekitar 5 bulan sejak pandemi Covid-19 pertama kali dikonfirmasi muncul di kota Wuhan sampai akhirnya menjadi pandemi global yang menewaskan ratusan ribu penduduk dunia dari 200 Negara terjangkit. Di Indonesia sendiri kasus Covid19 pertama kali dikonfirmasi pada awal bulan Maret lalu. Otak Biston Bitularia kita dan pemerintah pun mulai bekerja. Berbagai kebijakan diterapkan guna menekan penyebaran corona virus dan tentunya memperkecil angka kematian seperti karantina wilayah, isolasi, physical distancing, maupun PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Baru-baru ini, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan yang dikenal dengan ‘New Normal’. Sebelum dituangkan dalam surat edaran dan kepmenkes, istilah New Normal sendiri pernah disinggung oleh Deddy Corbuzier dan Young Lex dalam podcast milik host acara Hitam-Putih tersebut. Selain itu, standup comedian, Panji Pragiwaksono juga pernah membahas ‘new normal’ di podcast pribadinya. Bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang masih belum jelas kapan akan berujung, bisa akhir tahun atau mungkin tahun depan seperti yang telah diprediksi oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization).

New Normal (kenormalan baru) menurut badan bahasa Kemendikbud adalah keadaan normal yang baru yang belum pernah ada sebelumnya. Dalam penerapannya, new normal berisi protokol kesehatan berupa kebijakan mengenakan masker setiap keluar rumah, selalu mencuci tangan dan menjaga jarak fisik dengan orang lain dalam kegiatan sehari-hari seperti dalam hal pendidikan, industri, perdagangan, ertertainment, dan lain sebagainya yang dalam keadaan normal sebelum pandemi Covid-19 ini tidak dilakukan. Dapat dikatakan bahwa new normal sendiri merupakan satu upaya pemerintah untuk menggiring rakyaknya berdamai dengan pandemi corona virus.

Pertanyaannya adalah sudah siapkah kita dengan kenormalan baru tersebut? Sebagaimana PSBB yang tidak dapat diterapkan di semua wilayah, sangat mungkin jika new normal ini pun tidak mampu memjangkau semua elemen ataupun kelompok masyarakat nantinya. Dilansir dari Kompas.com, baru sekitar 25 kota di Indonesia yang mulai bersiap menerapkan new normal. Menurut Epidemiolog dari Griffith University Australia, New normal dapat diterapkan apabila suatu daerah atau negara telah memenuhi beberapa kriteria sebagaimana pernah disebutkan oleh WHO, dimana kriteria yang paling disoroti dengan kontribusi paling besar adalah pemahaman dan peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan Covid-19 berupa perilaku dan disiplin dalam upaya pengendalian Covid-19. Selain edukasi masyarakat, perlu adanya aturan pola kerja baru, pola pelayanan baru, pola belajar baru, dan pola-pola lain yang dapat menunjang penerapan new normal. Kriteria selanjutnya adalah adanya penurunan test rate dalam kurun waktu 7 hari terakhir dengan peningkatan cakupan jumlah testing Covid-19, dan nihilnya kasus kematian dalam 3 hari terakhir. Selain itu, dalam upaya menerapkan new normal, beberapa indikator yang perlu dikonfirmasi yakni adanya penurunan kasus, penurunan jumlah PDP dan angka kematian. Tersedianya Alat Pelindung Diri (APD) yang cukup juga menjadi indikator dimana suatu daerah dirasa mampu menerapkan kebijakan new normal.

Saya salah satu dari sekian juta penikmat novela terkenal karya Ernest Hemingway, ‘The Old Man and The Sea’. Betapa buku itu menyentuh saya secara asing, yang meninggalkan kesan mendalam meskipun tak sepenuhnya saya pahami. Bagaimana Santiago, seorang nelayan tua yang tidak pernah mendapat ikan selama 84 hari, lalu pada hari ke 85 harus bertarung dengan ikan marlin raksasa yang membuatnya terapung di tengah samudera selama berhari-hari. Bagaimana ia bertahan melawan serangan para hiu. Kenapa Santiago bersikeras melawan dan bertahan, meski tahu kalau akhirnya ia akan kalah? Sebagaimana kita tidak pernah tahu apakah kebijakan pemerintah mampu melawan serangan mikroorganisme tersebut, setidaknya sebagai warga negara yang baik kita bisa ikut berkontribusi dengan tidak melanggar aturan. Ngomong-ngomong, pemerintah sudah cukup bercandanya, bahkan anak kecil yang baru saja mondok pun tahu kalau di pesantren khususnya pesantren salaf tidak ada fasilitas mewah seperti hotel bintang lima.

*Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir Jurusan Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya